Oleh: ronnydm | Agustus 6, 2008

MANUSIA PENGECUT DAN MIYAMOTO MUSASHI

Jika ingat masa-masa sekolah/kuliah dulu. Saya sering tertawa kecut jika mengingat kenangan saya dalam menjalankan “strategi” contek-mencontek jika ujian/kuis tiba. Bukan karena takut tidak lulus, tapi lantaran “gengsi” jika cuma lulus dengan nilai kecil atau C. Pengetahuan yang minim “coba” ditutupi degnan catatan-catatan kecil pada sobekan kertas, yang jika saatnya tiba akan dibuka. Banyak alasan untuk membenarkan tindakan tersebut, mulai yang dari….”ah, gue bukanye pas kepepet aja kok”….atau “buat jaga-jaga aja, takut ilmunya tiba2 lupa karena gugup….” Dan beribu alasan lainya, yang toh, sama saja karena akhirnya contekan tersebut juga dibuka saat2 awal baca soal ujian….

Cuma karena urusan takut dapat nilai C, hampir setiap ujian saya “meluangkan” waktu untuk bikin “kebetan”, yang jika saya renungkan lagi sekarang kebetan yang saya buat hanya menjawab 20% pertanyaan saja. Karena, seolah sudah tahu, dosen di kampus saya cukup “kreatif” dalam membuat soal ujian yang “anti” contekan dan hanya bisa dijawab dengan pemikiran kreatif……TERIMA KASIH PAK DAN BU DOSEN……!

 Jika dipikir lagi, toh dengan nilai C pun saya sebenarnya sudah lulus….cuma karena takut, gensi, malu dapat nilai kecil, saya rela “membunuh” malu saya yang lain untuk berbuat jujur…….hehehehe….DASAR PENGECUT….!

“Nyontek” hanya contoh kecil dari perbuatan seorang pengecut. Efek jangka pendeknya hanya pada diri sendiri yang sudah dibohongi. Yang repot jika itu sudah menjadi karakter dan diterapkan dalam sisi kehidupan bermasyarakat, maka segala sisi kehidupan yang lain juga akan terkena dampaknya, alias akan merugikan banyak orang.

Ambil contoh, tawuran dan aksi keroyokan atau yang bisa juga disebut “serang rame-rame”- makin sering terjadi. Dari yang mempertahankan diri dari “keroyokan” aparat yang akan menggusur, tawuran antar sekolah, tawuran antar kampus, tawuran antar aparat, ribut antar partai/pendukung, sampai rusuh lantaran “harga dirinya” terlalu “tinggi” untuk menerima kekalahan tim sepakbola kesayangannya sehingga harus beraksi anarkis di luar stadion, semua sudah menjadi berita sehari-hari.

 Ada ciri khas yang mirip dari setiap aksi seperti ini yang sering terjadi di Jakarta ibukota Indonesiaku atau bahkan di daerah lain. Yaitu dilakukan “rame-rame”, banyak orang, pakai alat yang bisa memberi “jarak” dari jangkauan lawan seperti batu dan botol untuk dilempar, bahkan galah bambu yang biasa dipakai sebagai umbul-umbul di pinggir jalan juga bisa digunakan. Yang penting bisa “menyerang” sejauh mungkin dari lawan dan mesti “nyerang” rame-rame alias banyak orang.

Dalam menyerang juga seolah punya metode “baku serangan” yaitu “serang ramai-ramai” dan “lari ramai-ramai” jika dapat serangan dari musuh yang lebih ramai…. :P

Agak-agak kontradiktif sih. Mau nyerang (yang juga baru berani jika rame-rame) tapi takut “kontak langsung” dengan lawan yang diserang itu, sehingga perlu jarak karena rasa takut tersebut. Atau singkatnya mau “mukul” tapi takut “benjol” yang juga bisa diringkas dalam satu kata, ya, PENGECUT itu tadi….

*

Beberapa waktu yang lalu ada kasus yang membuat saya miris. Bagaimana tidak, ada seorang petugas polisi yang tewas saat sedang mengamankan kerusuhan. Memang sudah menjadi resiko sebagai seorang polisi untuk menghadapi tugas yang berbahaya. Tapi jika perihal kematiannya adalah tusukan pisau dari belakang adalah lain persoalan.

Sebagai orang yang awam dalam “sidik-menyidik” maka tusukan dari belakang bisa saya maknai sebagai serangan dimana orang yang menyerang takut akan orang yang diserang, atau yang menyerang berusaha “semaksimal” mungkin meminimalkan identitasnya saat akan menusuk. Dengan kata lain juga merupakan aksi PENGECUT.

Lain lagi pada sebuah kasus yang pernah terjadi di lapangan sepakbola. Saat seorang pemain melancarkan protes ke wasit karena seorang temannya diperlakukan keras oleh pemain lawan. Maka dengan serta merta penonton turun dari podium untuk ikut membela tim yang “dicintainya” itu. Tiba-tiba ada seorang penonton yang berlari ke arah wasit, memukul dari belakang dan terus berlari tanpa henti untuk menghindari kejaran aparat yang baru sadar kalau orang yang tadi berlari dari kejauhan telah memukul wasit. Dan lucunya kejadian tersebut terekam komplit oleh salah satu kamera tv swasta, tapi tanpa seorangpun yang bisa mengantisipasi kondisi itu.

Karena kejadian-kejadian itu beberapa stasiun tv sempat membahas bahwa (tanpa bermaksud SARA) ada suku-suku tertentu di Indonesia yang memang memiliki gen darah panas alias cepat marah. Masalahnya adalah, menurut saya, aksi “pengecutwati” tidak bisa langsung dianalogikan dengan temperamen tinggi suatu golongan.

Saya pribadi punya opini lain; bahwa sebagian besar dari  bangsa ini sedang “alergi” dalam bertindak BENAR dan BERANI dari “ujung rambut sampai ujung kaki” (baca : dari oknum pemimpin sampai rakyatnya). Kompensasi dan pelampiasannya adalah tindakan-tindakan anarkis ala “pengecut-wati” itu tadi.

Mental “pengecutwati” juga terlihat di kelompok organisasi massa tertentu. Asal serang, asal bredel, asal tutup, asal sweeping jadi bahasa sehari-hari mereka. Tidak peduli yang diserang, dibredel, ditutup, disweeping adalah bangunan, organisasi atau toko  dimana saudara-saudara kita yang lain yang tidak tahu persoalan bekerja mencari nafkah untuk anak istrinya. Dan sudah dapat diduga aksi ini dilakukan ramai-ramai (karakter pengecut-wati), sekalian unjuk kekuatan terhadap organisasi yang lain.

Mental pengecut bisa terekam lebih dalam lagi dan pada kelas sosial yang lebih tinggi. Para oknum pemimpin yang “membiarkan” rakyatnya dalam kesusahan adalah cerminan rasa takut akan tanggung jawab yang lebih tinggi untuk membawa rakyat pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Para oknum pemimpin yang korup adalah cerminan rasa takut untuk menghadapi hidup yang lebih realistis dihadapan istri dan anak. Atau dengan kata lain takut secara tegas dan benar mendidik istri dan anaknya untuk hidup sederhana tapi jujur ketimbang mengiming-imingi istri dan anak dengan mimpi-mimpi kesuksesan dari harta benda yang diraih secara “mencuri” alias “maling”.

Para oknum wakil rakyat yang lebih memikirkan tunjangan renovasi rumahnya adalah cerminan rasa takut akan kehilangan masa jabatannya yang pada masanya itu belum sempat merenovasi rumah pribadinya yang kelima.

Bahkan tanpa malu-malu, istri dan anak oknum pejabat/wakil rakyat tersebut ikut ambil bagian dalam “pemikiran strategis” bagaimana korupsi (baca : mencuri) yang baik, agar tetap kelihatan bukan “maling” berikut cara “cuci uang” hasil curian tersebut. Walaupun “strategi” menyimpan uang tunai dalam ember dan menguncinya dalam kamar mandi lebih mirip “strategi” orang kehabisan akal ketimbang “maling cerdas”….. :P

Bukan cuma oknum pejabat dan rakyat kecil saja tapi beberapa golongan profesional yang rela banyak “berhutang” untuk memperbaiki penampilannya sebagai cara menyembunyikan kelas sosialnya yang lebih relistis yang menurut faham “kapitalis” tidak modern atau tidak fashionable, yang sebenarnya hanya takut dibilang ketinggalan jaman atau ketinggalan gaya oleh tetangga dan teman-temannya.

Bahkan di wilayah yang semestinya dapat memberi contoh yang baik, justru terlihat juga aksi “kepengecutan” ini. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai akan berita tentang aliran sesat dari penganut agama tertentu. Tanpa bermaksud mendiskreditkan agama dan lembaga tertentu, saya melihat dari sudut pandang keadilan dalam menentukan “standar baku” dari aliran sesat. Jika syariat yang diajarkan memang keliru, dan dianggap menjadi aliran sesat karena “perbedaan” itu maka seharusnya sama sesatnya dengan aliran-aliran yang memilih faham radikal dalam perjuangannya, memilih untuk dengan mudahnya mengorbankan diri (bom bunuh diri) dan juga nyawa orang lain dalam mencapai tujuan, yang memilih menghancurkan gedung kantor dan tempat-tempat umum dalam menerapkan ke-halalan suatu tindakan, yang sering kali tujuannya juga untuk membunuh manusia lain (yang mungkin menurut pandangan golongan tersebut sebagai orang kafir)……!

Ternyata untuk kelompok radikal yang terakhir tidak ada yang berani terang-terangan menyatakan sebagai suatu aliran yang sesat bahkan malah digolongkan sebagai golongan “garis keras”, seolah golongan tersebut sah adanya. Menurut saya, semua golongan, kelompok atau organisasi yang yang memiliki faham “mengabaikan” nyawa manusia dan anarkis adalah sesat juga, karena saya yakin tidak ada satupun agama di dunia ini yang tidak menghargai kehidupan dan alam semesta beserta isinya….

Pukul dari belakang dan lari….

Tusuk dari belakang dan lari….

Serang “rame-rame”….

Bakar “rame-rame”….

Bredel “rame-rame”…

Nyolong duit rakyat “rame-rame” dan “rame-rame” juga ngilangin jejaknya….

Yang penting keliatan gaya walau dari hutang, alias nggak berani dibilang kuno…

Semoga saja mental pengecut ini hanya sebuah “penyakit” belaka bukan gen yang dibawa turun-temurun, karena jika hanya sebuah “penyakit” maka akan selalu ada obatnya, tapi jika sudah menjadi gen, maka perlu beberapa generasi untuk memperbaikinya, lama bokkkk….!

Saya kadang geli jika melihat hal ini dan kadang membandingkan dengan film-film jadul (baca : jaman dulu), yang diperankan oleh om Rano Karno selagi muda. Disitu digambarkan perkelahian anak muda yang jantan, “gentle” dan “one by one”. Jika ada yang kalah maka dengan fair mengaku kalah. Memang hanya film sih, tapi paling tidak cukup membuat lega (?) bahwa generasi muda kita jaman dulu memang jantan dan “gentle” yang berarti “gen” itu masih ada pada anak cucunya. Semoga….

*

Jika membahas perihal pengecut dan pemberani, saya jadi teringat akan cerita-cerita rakyat, baik yang berupa cerita lokal atau dari belahan benua lain.

Ambil contoh saja kisah hidup Miyamoto Musashi, yang juga merupakan kisah nyata. Musashi adalah seorang ahli pedang Jepang yang hidup di salah satu era kekaisaran Jepang. Dari buku yang pernah saya baca, Musashi karangan Eiji Yoshikawa, Vagabond (kisah Musashi yang dibuat komik) karangan Takehiko Inoe, Lone samurai karangan William Scott Wilson dan The Book of Five Ring karangan Musashi sendiri. Diceritakan perjalan seorang anak kampung yang mengejar keinginan untuk menjadi samurai sejati melalui jalan pedang. Musashi seumur hidupnya tidak pernah punya guru pedang atau bela diri dan hanya berguru dari alam serta pengalaman keras yang dialami sepanjang hidup yang menjadi gurunya.

Konon sejak usia awal belasan tahun sudah pernah mengalahkan pemain pedang yang umurnya jauh diatas. Sepanjang hidupnya telah melewati 60 duel yang sebenarnya (baca : duel hidup atau mati, satu lawan satu) dan semuanya dimenangkan olehnya, tak terhitung duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Yang terakhir justru membuat lawan yang tidak seimbang ini sadar bahwa dengan menggunakan tangan saja dia sudah kalah dari musashi, bagaimana jika musashi menggunakan pedangnya ?

Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak becus bermain pedang adalah seseorang yang sangat becus dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.

Duel yang tidak “fair”-pun pernah dialaminya. Dikeroyok 70 samurai dari perguruan Yoshioka, salah satu perguruan terkenal pada masa itu. Dan Musashi berhasil melumpuhkan hampir semua samurai yang sisanya melarikan diri. Mampu menghadapi 70 samurai seorang diri adalah merupakan keberanian yang luar biasa walaupun didukung juga dengan taktik yang jitu, dengan mengarahkan pertarungan ke pematang sawah, sehingga praktis lawan mendekat satu persatu.

Banyak yang tidak tahu, dalam banyak duel Musashi hanya menggunakan “bokken” atau pedang kayu yang biasa digunakan dalam latihan pedang. Termasuk dalam mengalahkan lawan terberatnya, Sasaki Kojiro, pemain pedang yang “rating”-nya jauh diatas Musashi. Uniknya bokken yang digunakan adalah yang dibuat oleh dirinya sendiri dari sebilah dayung, dan dibuat saat dalam perjalanan menuju ke sebuah pulau tempat pertarungan tersebut berlangsung.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Musashi dengan sebuah pukulan keras menghantam kepala yang membuat lawannya tak sadarkan diri. Tapi Musashi amat menyesali mengapa pertarungan itu sampai terjadi. Walaupun sudah berusaha mengalahkan lawannya tanpa membunuh, tapi konon Sasaki Kojiro menjadi cedera berat/cacat setelah petarungan itu.

Namun jarang ada yang tahu bahwa ada seseorang yang mampu mengalahkan Musashi. Dialah Muso Gonosuke, seorang petani yang kemudian mendirikan perguruan ilmu tombak yang perguruannya masih ada sampai sekarang.

Pada saat bertarung dengan Musashi, Muso hanyalah seorang petani yang mempunyai cita-cita ingin menjadi pemain tombak terkenal. Seperti halnya Musashi, Muso juga berlatih dari alam. Berlatih hanya dengan penumbuk beras yang “dikhayalkannya” sebagai tombak.

Dalam pertarungan tersebut ibu Muso, tentu atas persetujuan Muso, meminta Musashi untuk membunuh anaknya jika anaknya kalah. Karena impian Muso adalah bukan menjadi petani, melainkan menjadi pemain tombak terkenal, dia lebih baik mati jika seumur hidupnya hanya menjadi petani.

Karena melihat dilema itu, Musashi iba dan menawarkan melawan muso hanya dengan tangan kosong atau dengan “bokken”. Namun muso menolak dan minta Musashi menghadapinya dengan pedang tajam sementara ia sendiri dengan penumbuk beras.

Pertarungan alot tersebut berakhir dengan dramatis. Pedang Musashi berhasil menempel di leher muso namun tidak melukainya. Muso memintanya untuk membunuhnya sekalian. Namun pada saat itu pula Musashi memperlihatkan bagian perutnya yang membiru yang ternyata terpukul lebih dahulu oleh Muso dan dengan tersenyum Musashi berkata kepada Muso, “jika kau menggunakan tombak sungguhan maka akulah yang akan mati, engkau sungguh berbakat……” Setelah pertarungan itu maka Muso Gonosuke meninggalkan “profesi”-nya sebagai petani dan mengembangkan ilmu tombak, hingga perguruannya berdiri sampai sekarang.

Tak terbayangkan jika dalam pertarungan tersebut Musashi berlaku pengecut dan curang (tidak sportif). Maka perguruan tombak Muso yang terkenal itu boleh jadi tidak akan pernah ada. Sebuah sikap sportif yang luar biasa. Yang hanya bisa timbul dari kematang diri dari tempaan keberanian yang sebenarnya. Kejujuran, keberanian  dan kebenaran hanya bisa lahir dari sikap sportif. Dan sikap sportif tidak akan pernah muncul dari seorang dengan mental pengecut. Karena mental pengecut itu adalah hasil dari rasa takut dari hal yang tidak signifikan, yang lebih sering untuk melindungi (secara berlebihan) diri sendiri, keluarga atau sesama golongan.

Memang, bertindak berani, benar dan jujur amat diperlukan oleh bangsa ini, DARURAT…..!!!!!

MENTAL PENGECUT BISA MENGHASILKAN KEKERASAN DAN ANARKIS, karena kekerasan dan anarkis itu timbul dari rasa takut yang berlebihan, yang merasa dirinya adalah manusia “kalah” sehingga perlu mengorbankan orang lain untuk kemenangan pribadi, keluarga atau kelompok, TAPI MENTAL TEGAS, BERANI, BENAR DAN JUJUR JUSTRU BISA MENGHASILKAN KEDAMAIAN DAN PEMAKNAAN HIDUP, termasuk tegas pada diri kita, kemampuan, skill, daya beli dll, yang semuanya itu jangan pernah lagi kita bohongi….!!!! 

 

Oleh: ronnydm | Januari 14, 2008

MANUSIA IKLAN

Tidak dipungkiri lagi bahwa semua indera kita, sebagai orang Jakarta dan sekitarnya, selalu bersentuhan dengan iklan produk tertentu. Mulai dari telinga, saat mendengarkan radio. Mata saat melihat majalah dan tv. Penciuman kita yang tidak luput dari sales minyak wangi. Perasa, yang diwakili oleh lidah, untuk demo menggoreng krupuk tanpa kolesterol. Bahkan kulitpun tidak luput dari bahan “percobaan” produk kecantikan atau produk shampo anti ketombe.

“Tugas” iklan memang mengangkat sebuah citra tertentu kepada calon pemakai agar “sesuai” dengan yang dicitrakannya. Dengan kata lain brand akan “mencoba” sesuai dengan orang tertentu atau bahkan orang tertentu “harus menyesuaikan” diri dengan brand bersangkutan.

Jika komunitas tertentu sudah sesuai dengan brand/citra barang bersangkutan, maka dapat dikatakan komunitas tersebut adalah segmen dari produk yang dicitrakan itu. Tapi lebih seringnya “si segmen” ini mencoba “memanjat” pada produk yang dicitrakan tersebut agar ia dianggap “bagian” dari segmen atau komunitas barang tersebut. Yang terakhir mungkin lebih sering disebut sebagai “korban iklan”. Walaupun yang menjadi korban sering tidak merasa sebagai korban, karena pergerakan “memanjat” gaya hidup tersebut dianggap pergerakan ke level hidup yang lebih tinggi, lebih eksklusif, lebih hebat, lebih gaya, lebih “top”, dll.

Iklan memang akan selalu menggambarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang terlihat lebih fungsional, lebih canggih, lebih bermutu, walaupun jarang benar-benar fungsional. Tanpa bermaksud mendiskreditkan iklan, tapi memang itulah fungsi iklan. Iklan tidak akan pernah membuat pembeli menjadi lebih kritis akan tetapi membuat calon pembeli menjadi lebih cepat memutuskan.

*

Bicara tentang fungsi, saya jadi teringat trend tentang polyphonic ring tone beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu banyak orang yang masih memakai HP dengan nada dering monotonik kontan mengalihkannya ke mode silent atau getar karena malu akan suara HP nya yang masih “kuno”.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya saat ini, dimana semua HP sudah poliponik, bahkan banyak pula yang nada deringnya mp3, justru banyak orang yang memakai mode silent alias getar dengan alasan lebih “privacy”, lebih elegan dll. Kalau begitu percuma saja nada dering yang canggih itu ditemukan oleh produsen HP sedunia, toh, jarang terpakai juga. Atau malah mungkin sengaja “ditemukan” untuk hanya sekedar “memutar” penjualan.

Beberapa waktu yang lalu saat minum kopi bersama teman di sebuah café, kami berempat nyaris datang dengan hp dalam mode silent, walaupun ada seorang teman yang masih mengaktifkan pada mode dering-nya. Dari 4 orang yg memakai hp 3 diantaranya memasang mode silent untuk hpnya walaupun pertemuan kami adalah pertemuan informal.

Bahkan menurut pengalaman beberapa teman saya, jika naik motor atau didalam bus akan lebih terasa jika hp tersebut dalam mode silent atau getar, karena tingkat kebisingan lingkungan dimana telinga kita tidak bisa lagi mengklasifikasikan suara ring tone polyphonic agnes monika dengan kebisingan klakson mobil……

Boleh saja berkilah, bahwa warna, suara dering dan merk itu menggambarkan karakter kita, seperti yg selalu diiklankan, tapi yah kok tega-teganya karakter kita “diwakili” oleh barang yang umur trendnya saja kadang hanya berhitung bulan….?

Contoh lain adalah dalam industri fotografi. Dengan “ditemukannya” digital diakhir tahun 90-an, seolah teknologi seluloid (film) telah mati. Paling tidak itulah yang “diisukan” oleh beberapa produsen kamera. Setelah 10 tahunan berlalu, ternyata masih bisa kita temui rol film biasa yang dijual di toko-toko kamera.

Fakta terakhir yang sulit terbantahkan adalah bahwa resolusi kamera digital format 35mm baru mencapai 16 megapixel sedangkan satu frame dari film seluloid jika di-scan dengan scaner khusus akan mencapai 32 megapixel. Semua fakta itu menjadi tidak penting karena mata orang awam kebanyakan sulit membedakan mana foto yang dihasilkan oleh kamera dengan resolusi 8 megapixel dan 10 megapixel. Padahal yang terakhir bisa berharga dua kali lipat jika kamera tersebut baru launching dan hanya berumur 6 bulan saja sebelum yang 12 megapixel siap menjadi produk baru. Perlombaan megapixel pada kamera digital memang sekedar marketing “gimmick”. Dan terbukti berhasil membuat fotografi menjadi trend lagi, bahkan lebih luas dikalangan kaum muda dan pelajar, yang karena opini yang tidak berimbang dari iklan, kemudian menganggap fotografi sebagai hobby yang tidak lagi mahal.

Paling tidak dengan adanya “gimmick” digital, konsumen kamera bisa bernafas lega, karena dunia fotografi bergiat kembali dari kejenuhannya disekitar tahun 90-an.

Yah, karena iklan juga akhirnya ada anekdot dikalangan fotografer dengan “mengklasifikasikan” kelompok orang tertentu yang lebih hobby mengganti alat fotografinya setiap produk baru muncul ke pasar daripada aktifitas memotret itu sendiri, dengan sebutan PHOTOGADGETER. Atau ada juga istilah PHOTOSHOPER sebagai fotografer dengan kemampuan pas-pasan, hanya mengambil foto seadanya, atau yang biasa disebut foto-fotonya sebagai “spare part” saja. Karena setelah diload ke komputer maka foto tersebut akan menjadi bahan yang benar-benar mentah untuk kemudian diolah habis-habisan dengan sebuah software yang bernama PHOTOSHOP.

*

Iklan dapat membuat status konsumen menjadi kabur, konsumen sebagai korban ? Atau konsumen sebagai pemakai yang sebenarnya ?

Pada konsumen korban inilah produsen bisa bernafas lega, karena yakin setiap produk yang dilaunching pasti punya animo psikologis yang kuat ketimbang animo fungsional yang cerdas. Karena konsumen pemakai yang cerdas hanya akan membeli jika barang tersebut dibutuhkan dengan kata lain logika fungsional lebih dikedepankan. Iklan memang lebih “bermain” diwilayah psikologis, karena sifatnya yang “mengalir” dan mudah “dipengaruhi”.

*

Jika bicara iklan, maka tidak mungkin kita meninbggalkan dunia fashion dan celebritis. Dua dunia yang justru menjadi ujung tombak periklanan saat ini.

Fashion yang sifatnya memang mudah berubah, mengikuti musim, walaupun musim dinegara empat musim bukan dinegara tropis ber-dua musim seperti kita. Fashion harus berubah. Karena ada unsur kebudayaan manusia di dalamnya. Baik itu desain, kebiasaan, iklim, dll. Tapi paradoks bisa terjadi disini. Gaya harajuku yang di-import dari jepang boleh jadi menjadi trend saat ini dan membuat setelan casual kaos dan celana jeans menjadi “usang” atau ketinggalan jaman. Padahal yang terakhir mungkin lebih cocok dipakai di Jakarta baik dilihat dari sudut pandang iklim, sosial, rasa keamanan dan kenyamanan, namun gagal jika harus menjadi “trendsetter” saat ini.

Sedangkan celebritis atau pesohor sering dianggap ujung tombak perubahan “gaya” itu sendiri. Banyak orang mengikuti potongan rambut Leonardo di Caprio saat bermain dalam Titanic, namun gagal me-logikakan bahwa potongan rambut tersebut terlalu maju untuk masa dimana setting film itu dibuat. Tak sedikit orang yang juga mengikuti “gaya” cool dari Brat Pitt saat main di Ocean Eleven, gaya “street pop fashion” yang dikenakannya. Tapi gagal lagi melogikakan bahwa style tersebut hanya cocok dipakai di kota sekelas new york dimana infrastruktur kota sudah termanage dengan baik dan “kegagapan” sosial budaya sudah tidak ada. Singkat kata untuk kota sekelas jakarta mata “penikmat” belum terbiasa dengan hal seperti ini, kecuali jika anda berencana naik mobil pribadi dan hanya mengunjungi mal, yang tentunya sebutan gaya ini akan berubah menjadi “car or mal pop fashion”. Yang menegaskan kita memang hanya pintar dalam “mengikuti” trend tetapi selalu gagal dalam melogikakan bagaimana trend itu bisa timbul.

Saya tidak anti celebritis. Jika kita melihat sisi lain dari Leonardo di Caprio yang sekarang menjadi aktifis lingkungan hidup yang amat “vokal”, sisi lain dari Brat Pitt sebagai orang yang mau mengadopsi anak-anak dari Afrika dan Vietnam, yang hidup terlantar, terlihat bahwa mereka memiliki nilai selain nilai kesohoran mereka, nilai yang membuat mereka manusia yang berarti bagi orang banyak. Namun sekali lagi kita gagal atau keliru “meniru” apa yang mereka lakukan. Berapa banyak sih orang jakarta yang peduli terhadap lingkungan dan anak yatim piatu….?

*

Mulai sekarang bayangkanlah, mulai dari ujung rambut anda sampai ujung kaki anda…..

Rambut…..
Katakan hanya dipotong di salon kenamaan dengan produk produk perawatan yang juga kenamaan dan dipakai juga oleh pesohor dunia….

Wajah dan leher…..
Produk kenamaan untuk perawatan dan emas berlian sebagai asesori giwang dan kalung….

Badan tangan dan kaki…..
BH, celana dalam dengan merk termahal dan bentuk terseksi, yang tidak akan terlihat juga karena toh anda tidak memakainya seperti superman atau wonder woman….
Jas dengan guntingan pribadi,
Jam dengan koleksi limited,
HP disaku kiri untuk panggilan pribadi dengan model tercanggih,
HP disaku kanan untuk bisnis dari model smartphone yang karena berat sering membuat celana anda melorot….
Celana jeans dengan seri limited juga yang biasanya terlihat seperti celana bekas pakai orang satu kampung alias sudah sangat-sangat “belel”
Sepatu dari italy….yang kadang bahan baku kulitnya dari jawa Barat
tak lupa kaos kaki anti bau kaki….

Setelah anda bisa membayangkan maka tanggalkanlah semua, tentu yang ini juga cukup dibayangkan saja, anggaplah anda hanya memakai produk generik yang termurah yang pernah ada dibumi ini, dari ujung kaki samapi ujung kepala.

Setelah “menanggalkan” bayangkanlah diri anda….
Apakah anda masih berarti tanpa barang itu melekat di badan anda….?
Apakah nilai anda masih tersisa setelah barang tersebut anda tanggalkan….?
Apakah anda menjadi tidak percaya diri jika benda2 tersebut ditanggalkan…?

Jika jawabannya adalah anda tetap bernilai (yang pastinya bukan nilai materi), apakah itu bernilai bagi keluarga anda, orang lain, teman, karyawan, bos, dll, walaupun tanpa barang2 tersebut diatas, maka anda BUKAN MANUSIA IKLAN. Tapi yang untuk ukuran jaman sekarang yang penuh paradoks, maka biasanya anda akan dipanggil kuno, idealis, nggak gaul, pelit, kampungan, dll.

Namun jika jawaban anda adalah ragu2 atau bingung jika harus hidup tanpa itu semua, maka selamat ANDALAH MANUSIA IKLAN SEJATI, karena anda identik dengan itu semua dan menjadi bukan siapa-siapa tanpanya……

Anda pilih yang mana…….?

Oleh: ronnydm | November 7, 2007

MANUSIA HEBAT

Kalo teringat pengalaman sebagai “fresh graduate” dulu, saya kadang suka geli sendiri. Sebenarnya sih hanya pengalaman sederhana yang pasti juga dialami oleh banyak orang.

Sebagai sarjana “fresh graduate” kurang lebih 7 tahun yang lalu, sudah manjadi standar saat itu untuk melamar bekerja pada satu perusahaan. Umumnya setelah lulus, para sarjana ini, termasuk saya, mulai “mengundi” CV untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan terkait. Semakin banyak “undian” CV dikirim maka semakin besarlah kemungkinan untuk dipanggil yang selanjutnya mungkin akan diterima untuk mulai bekerja. Sudah menjadi “kebiasaan” pula, bagi setiap sarjana “fresh graduate”, mengirim lusinan CV dalam rentang waktu tiap dua minggu.

Entah karena rejeki atau bukan, saya langsung bekerja dengan hanya “mengundi” surat lamaran sebanyak 3 kali, bukan 3 lusin tentunya. Senangnya bukan kepalang. Ditambah lagi saya berhasil memenangkan “nego” gaji yang diatas rata-rata “sarjana tanpa pengalaman kerja” pada waktu itu.

Setelah tugas pertama berhasil “ditaklukkan” (dapet kerja dengan gaji yang lumayan), masih ada lagi tugas yang perlu “dijalani” untuk memastikan karir kedepan yaitu penyesuaian pada lingkungan kerja. Yang terakhir juga saya lalui dengan mulus karena perusahaan tersebut memang kondusif sebagai tempat untuk “berkarir”.

Karena “keberuntungan” yang bertubi-tubi, yang jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, mungkin sayalah yang “beruntung” telah memenangkan “undian” CV dengan pengorbanan yang menurut saya “sedikit”, maka hal tersebut sempat membuat saya lupa diri. Atau singkatnya saya merasa sebagai “MANUSIA HEBAT”. Yang kalau dilihat dari sudut pandang saya yang sekarang lebih cocok jika disebut terkena SINDROME MANUSIA HEBAT.

Karena sebenarnya itu semua hanya sindrome (baca : penyakit), maka biasanya hanya akan bertahan sebentar atau sementara, paling tidak sampai ketemu “obatnya”. Namun sebelum “obat” ditemukan gejala-gejala dari sindrome manusia hebat tersebut terjadi pada saya.

Gejala yang paling sering saya rasakan adalah tiba-tiba saya menjadi “konsultan” untuk teman-teman saya dalam tips dan trik menulis CV, memberikan saran-saran untuk tembus dalam interview, lolos dalam psikotest, dan lain-lain. Yang semuanya hanya saya lakukan dengan berbekal pengalaman sukses “ngundi” CV saya itu.

Belum lagi sindrome yang berhubungan dengan urusan “gaya”. Kemeja terbaru selalu hadir saat gajian tiba. Yang bisa juga dibarengi dengan sepatu model terbaru, jam, HP, parfume, nongkrong di café, beli gadget terbaru dan banyak lagi atribut yang biasanya mengiringi kita saat kita sudah merasa hebat, merasa berhasil, merasa sukses, merasa menang dan merasa-merasa lainnya.

Sampai suatu waktu, kurang lebih setelah 6 bulan saya bekerja di perusahaan tersebut, saya mendapat pengalaman yang akhirnya merubah cara berfikir saya tentang manusia hebat.

Tepat di depan kantor saya pada waktu itu, ada seorang penjual gorengan yang sudah “mangkal” jauh sebelum saya bekerja di perusahaan tersebut. Sebut saja namanya pak Mamat. Pak Mamat sudah mangkal di depan kantor saya selama kurang lebih 5 tahun. Sebelumnya beliau menjajakan gorengannya secara keliling lewat di komplek-komplek perumahan.

“Kalo sekarang sih bapak enakan mangkal den, nggak capek….udah ngerasa tua nih soalnya mau hemat tenaga buat hari tua nanti kalo udah mau “nyawah” lagi di kampung….”, cerita pak Mamat saat suatu hari ketika saya ajak ngobrol.
“Lagian kalo mangkal bapak jadi tau selera yang beli disekitar sini….jadi gampang nyesuaiin ama maunya pembeli, den….”, lanjutnya lagi.
“Jualan di kantoran kayak gini selera pembelinya beda ama di rumahan….” sambungnya.
“Maksudnya gimana pak…?”, tanya saya penasaran.
“Pembeli disini maunya gorengan mutu bagus den, dari bahan yang bagus…..
Urusan minyak goreng juga bapak turutin jadinya, mesti pake minyak goreng yang bersih, bukan minyak kemarenan….”, jawabnya.

Dari obrolan singkat tersebut saya merasa malu. Karena apa yang baru dijawab oleh pak Mamat adalah teori-teori bisnis yang biasanya saya dapat dari seminar yang dimodali oleh perusahaan tempat saya bekerja. Yang pembicaranya konsultan bisnis terkemuka pada saat itu yang teorinya di-import dari barat.

Singkatnya pak Mamat sudah menjalankan efisiensi (dengan berjualan mangkal), segmentasi (memilih pasar orang kantoran) dan diferentiation (mengolah bahan dengan cara yang berbeda dengan penjual lain). Belum lagi pelayanan antar langsung (baca : service kepuasan pelanggan) yang sering dilakukan beliau saat saya dan teman-teman yang lain sedang sibuk-sibuknya bekerja dan meminta gorengan yang baru “diangkat” dan masih hangat diantar langsung ke ruangan sebagai teman minum kopi.

Ilmu-ilmu diatas beliau dapat dari praktek langsung tanpa didahului oleh teori-teori sekolahan. Bahkan mungkin istilah-istilah sekolahan dari ilmu-ilmu bisnis diatas juga tidak pernah didengar oleh beliau.

Saat itu saya merasa pak Mamat juga manusia hebat. Beliau tanpa sengaja menjalani langsung ilmu-ilmu bisnis tanpa “makan” sekolahan. Dibandingkan dengan saya yang perlu waktu bertahun-tahun untuk sekolah ditambah dengan seminar-seminar untuk memahami ilmu tersebut dan saat itupun saya masih minim pengalaman dalam praktek langsung.

Sebuah “cerita lama” yang masih berlangsung sampai saat ini, bahwa lulusan sarjana baru di Jakarta lulus dengan membawa ijasah dan segudang ilmu teori namun nihil dalam pengalaman praktis dari ilmunya tersebut.

Karena masih penasaran, saya meneruskan lagi ngobrol dengan pak Mamat pada hari yang lain.

“Tiap harinya bawa bahan gorengan berapa banyak pak…?” tanya saya.
“Wah nggak tentu den, tergantung hari. Kalo udah masuk hari Kemis-Jumat bapak bawa lebih banyak bahan dari hari Senen ampe Rebo. Soalnya biasanya diakhir minggu banyak yang beli buat dibawa pulang……”, jawabnya.
“Kalo tanggal muda atau tua sih nggak ngaruh den, soalnya harga gorengan bapak kan nggak terlalu mempengaruhi udah gajian atau belum, jajanan kayak gini kan bukan barang mahal den, walaupun harga bapak masih lebih mahal sedikit dari temen-temen lain yang keliling….”, lanjutnya.
“Yang beli beda, mutunya jadi beda, harga juga ikutan beda….”, lanjutnya mengakhiri.

“Wah, kalo gitu untung sebulannya lumayan gede dong pak kalo mangkal gini….?”, tanya saya memancing.
“Yah lumayan lah den, tiap bulan bapak bisa dapet “lumayan”. Bersihnya bisa buat ngirim ke kampung, ke anak-istri ama bisa buat hidup bapak sehari-hari di Jakarta dan masih ada sisa buat nabung sedikit buat “pensiun” di kampung nanti. Mau nyawah aja den….”, jawabnya lugu.

Dalam pembicaraan yang sesungguhnya pak Mamat menyebutkan angka penghasilan bersihnya per bulan yang sontak membuat saya kaget. Bagaimana tidak, penghasilannya sebulan masih lebih besar dari gaji saya perbulan yang biasanya juga selalu habis pas untuk sebulan tanpa bisa saya sisihkan untuk tabungan.

Pengalaman tersebut selalu saya ingat sampai sekarang. Dan masih sering malu jika mengingatnya. Karena, terus terang, sebagai orang yang tinggal di Jakarta, kadang terasa sulit mengabaikan kumandang “adzan” iklan gadget terbaru, HP terbaru, kopi dengan rasa terbaru di café-café import, gaya hidup serta simbol-simbol lain yang tidak pernah habis, yang seolah akan meminggirkan kita yang tidak mengindahkan panggilannya.

Ternyata memang benar nasihat-nasihat orang tua kita dahulu, bahwa “diatas langit selalu masih ada langit”, alias tidak ada manusia yang hebat jika sudah dipandang dari berbagai sisi, dalam hal ini produk-produk “kebudayaan profit minded” seperti materi, karir, dll. Karena semua itu hanyalah simbol-simbol dari kehebatan bukan pencapaian sebenarnya. Jika kita terpaku pada materi dan karir maka semuanya menjadi serba relatif.

Pengalaman kedua yang juga cukup membuat cara pandang saya berubah, saya dapatkan dari sebuah acara TV live yang pada waktu itu dipandu oleh mbak Desi Ratnasary dan mas Dik Doank. Dalam satu sesi acara, mereka mengundang seorang tukang sapu jalan, yang biasa kita kenal dengan petugas berbaju orange dari Dinas Kebersihan Jakarta.

Singkat cerita, diketahui bahwa bapak petugas kebersihan yang telah mengabdi selama 24 tahun tersebut belum digaji selama 4 bulan tanpa alasan yang jelas. Lebih gilanya lagi, bahwa “telat” gaji seperti itu sudah biasa di instansi tersebut. Dan hampir berlaku pada hampir semua petugas orange tersebut.

“Telat satu-dua bulan mah udah biasa mas, tapi ini yang terlama, sampai 4 bulan belum dibayarkan…..” aku si bapak saat ditanya host acara tersebut.

Mendengar jawaban tersebut, dua host acara terlihat geram dan berusaha menelpon kepala dinas kebersihan, agar bisa menjawab secara langsung dan memberikan jaminan bahwa gaji si bapak bisa dibayarkan secepatnya. Namun entah karena tahu bahwa acara tersebut live, maka HP orang-orang terkait yang dihubungi mendadak kompak tidak aktif.

Karena tidak berhasil menghubungi pejabat terkait maka host acara balik mengajukan pertanyaan ke bapak tersebut,

“Pak, selama belum digaji ini bagaimana bapak memenuhi kebutuhan sehari-hari ?” tanya si host.

“Ya karena udah biasa seperti ini, bapak biasa ngutang dulu mas ama tetangga…..” jawab si bapak lugu.

“Trus bapak udah 4 bulan nggak digaji kok tetep kerja, kok mau sih pak, kan belum digaji….? tanya si host lagi.

“Yah tetap kerja mas……Kerjaan bapak kan nyapu dan membersihkan jalan protokol, bapak malu mas kalo sampai masih kotor, malu ama tamu negara kalo kebetulan lewat di jalan yang menjadi tugas bapak membersihkannya…..” jawab si bapak.

Jawaban lugu si bapak kontan membuat dua orang host acara tersebut diam seribu bahasa, larut dalam kekaguman dan keterharuan. Saya-pun merasakan hal yang sama.

Bagaimana bisa jawaban lugu yang sarat dengan nasionalisme keluar dari seseorang dengan pendidikan yang sebagian dari kita menganggap tidak tinggi, yang bekerja pada bidang yang hampir semua orang Jakarta tidak akan mau melakukannya (menyapu jalan protokol), yang tidak mengenal café, yang tidak mengenal butik-butik mahal, terlebih lagi sudah bekerja 4 bulan tanpa digaji……!

Pelajaran kedua ini sungguh membuat saya malu. Malu karena masih menjadi manusia “penuntut”, yang hanya mau bekerja jika digaji.

Bandingkan dengan karyawan sebuah perusahaan dirgantara di Bandung. Yang sudah beberapa tahun ini menuntut pesangon, yang membalut ego dengan sampul keadilan. Yang seolah “sudah beku” akan kreasi untuk mencari penghidupan dengan jalan yang lain selain menuntut.

Tidak malukah kita semua….?

Manusia yang hebat adalah manusia yang mau mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai, dan terkadang dikerjakan tanpa pamrih.

Dari pengalaman kecil ini, saya mendapat pelajaran berharga bahwa menjadi “manusia hebat” tidak bisa dihitung dari materi atau uang dan kemudahan dalam menempuh segala keberhasilan semu. Melainkan dinilai dari proses yang sudah dijalani. Proses untuk berbuat yang terbaik adalah pelajaran yang sebenarnya karena itulah nilai sebenarnya dari hidup.

Manusia hebat adalah semua manusia yang sudah menjalani segmen-segmen hidup dengan baik dan bisa memperbaiki diri dari hari ke hari. Dimana tanggung jawab setiap manusia adalah pada proses yang harus dijalani dengan baik. Yang jika demikian maka segala hasil pencapaian menjadi semu atau hanyalah efek samping dari proses itu sendiri. Yang pada tahap selanjutnya ia bisa menjalani semua proses kehidupan dengan kesungguhan dari hati, sehingga setiap perbuatannya memiliki nilai bagi orang lain, bahkan jika hanya dalam skala kecil-pun.

So, mulai sekarang, jadilah manusia yang benar-benar hebat…..:)

Oleh: ronnydm | Oktober 5, 2007

WAJAR

“Menahan lapar dan haus….”
Adalah jawaban yang paling singkat dan umum jika kita ditanya tentang apa itu puasa.
“Menahan semua nafsu yang membatalkannya….”
Menjadi jawaban yang universal jika pertanyaan yang sama masih muncul karena ke-kurangpuas-an dari jawaban kita yang pertama.

Puasa bukan sekedar aktifitas, paling tidak menurut saya. Karena sebenarnya tidak bisa dijelaskan dengan kalimat singkat. Logikanya begini, jika definisi puasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan hawa nafsu, maka begitu kita berbuka seolah semua “tahanan” itu menjadi “halal” untuk dilanggar. Dan seolah lepas dari “tahanan”, banyak diantara kita yang saat berbuka tiba-tiba menjadi “bayi sehat” alias makan empat sehat lima sempurna tepat begitu beduk dipukul. Sehingga pada saat selesai berbuka selalu diikuti oleh aksi “kekenyangan” yang berdampak pada timbulnya rasa kantuk yang luar biasa, dan macam-macam sindrom lain yang mengarah pada ketidakproduktifan kita saat malam tiba untuk beribadah.

Kalo pengertian yang “keliru” ini masih sekedar diterapkan pada wilayah pribadi sih, masih tidak terlalu besar dampaknya, paling tidak kita sendirilah yang paling merasakan “akibatnya”. Tapi jika diterapkan pada tingkat komunal, maka jadi lain urusan karena sudah “bersinggungan” dengan kepentingan orang lain.

Beberapa waktu yang lalu pada bulan Ramadhan ini, sempat ramai diberitakan tentang aksi sweeping dan penutupan paksa warung-warung makan di siang hari. Kelompok tersebut, katanya punya alasan yang “logis” dan masuk akal (walaupun masih perlu diteliti lagi akal sehat atau bukan), bahwa selama bulan ramadhan aktifitas makan dan minum jangan sampai terlihat di siang hari. Implementasi dari aksi tersebut adalah dengan menutup paksa tanpa peringatan warung-warung (saya sendiri masih heran, kok cuma warung ? nggak restoran atau mall sekalian ?) yang ada di pinggiran jalan.

Kebetulan aksi tersebut diliput oleh beberapa stasiun tv yang akhirnya jelas terlihat bahwa aksi tersebut bukan aksi “simpatik”. Beberapa pedagang menyesalkan aksi tersebut karena diikuti oleh tindakan-tindakan konyol seperti mengambil panci dan kompor untuk masak dan merusak warung-warung mereka.

Dari sudut pandang kelompok tersebut, mereka menganggap bahwa warung makan yang buka di siang hari adalah “kurang” menghormati umat muslim yang sedang berpuasa.

Lalu apakah karena kita berpuasa, sehingga kita perlu marah dan bertindak keras jika ada orang lain yang “mengganggu” kelaparan dan kehausan kita di siang hari ?
Sehingga menghalalkan kita untuk bertindak keras kepada orang lain yang mungkin bukan muslim ?
Apakah tidak ada cara lain yang lebih beradab untuk mengatur ?
Bukankah Islam adalah rahmat untuk semua alam ?
Mengapa kita tidak bisa “merahmati” orang-orang yang sedang mencari nafkah ?
Bukankah umat minoritas justru harus kita lindungi dan kita atur agar masih bisa memenuhi kebutuhan makan di siang hari ?
Mengapa kita tidak bisa mengatur saudara kita yang sedang mencari nafkah dengan cara yang baik ?
Yang mungkin saja nafkahnya di bulan suci ini amat sangat diperlukan untuk kelangsungan hidupnya atau sebagai rejeki yang bisa dibawa pulang ke keluarga saat lebaran nanti ?

Terus terang saya bukan ustadz dan tidak bisa berbicara banyak tentang masalah ini jika sudah masuk kedalam wilayah komunal. Namun sebagai seorang muslim saya amat prihatin, bahwa sebagian dari kita masih banyak yang menganggap puasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Dan fokus hanya pada dua hal itu saja. Menurut saya terlalu dangkal. Maaf. Amat sangat dangkal.

Pada bulan Ramadhan, kebutuhan kita adalah untuk fokus pada puasa itu sendiri bukan pada kebencian akan aktifitas “non puasa”, yang membuat kita menjadi anarkis kepada kelompok lain. Puasa adalah ibadah pribadi kepada Allah dengan pencerminan sikap-sikap sosial yang baik kepada manusia lain dan alam dengan kearifan bukan kekerasan.

Saya akan kembali ke wilayah pribadi saja sekarang (karena saya sendiri takut di fatwa) dan meneruskan opini saya tentang berbuka dan puasa.

Banyak dari kita yang “hilang kesadaran” saat berbuka puasa, bahkan jika berbuka puasa dilakukan di tempat umum-pun ironi ini masih terlihat. Tengok saja jika kita berbuka di mall.

Dari tahun ke tahun, pengalaman berbuka puasa di mall selalu menarik. Bukan karena suasana di mall yang nyaman, tapi selalu ada hikmah yang bisa kita ambil.

Beberapa hari yang lalu, karena jalan yang macet, terpaksa saya banting stir untuk mampir ke mall terdekat untuk sekedar “membatalkan” puasa. Karena sejak berangkat memang tidak berniat berbuka di jalan, maka saya mengabaikan saran istri saya untuk membawa bekal sekedarnya jika harus berbuka di mobil, bekal sekedarnya yang “fungsinya” memang hanya untuk membatalkan saja.

Karena waktu sudah “mepet”, di dalam foodcourt sudah cukup ramai dan sulit pada saat memesan makanan dan mencari bangku kosong. Jika berbuka sendiri di mall, saya biasanya hanya memesan makanan kecil berupa sop hangat dan minuman hangat, biar praktis dan toh saya hanya perlu waktu sedikit untuk “membatalkan” dan kemudian memberikan kesempatan pada orang lain untuk duduk.

Tidak sulit buat saya yang sendirian untuk dapat bangku kosong dipojokan yang kebetulan juga tinggal satu bangku tersisa karena yang satunya dipakai di meja sebelah yang butuh bangku lebih banyak. Dalam 15 menit waktu saya duduk di foodcourt menikmati hidangan “pembatal” saya, cukup banyak “kejadian menggelitik” yang bisa saya lihat. Dan mungkin bisa jadi pelajaran buat kita semua.

Mulai dari kesibukan sebagian orang yang belum dapat tempat duduk tetapi sudah memegang nampan makanan dan mulai “saling sikut-sikutan” untuk berebut tempat kosong.

Ada juga seorang ibu yang meninggalkan anaknya yang masih kecil tanpa takut diculik dan memberi tugas pada anaknya itu untuk menjaga meja dengan kapasitas tempat duduk untuk 4 orang. Alhasil setiap ada orang yang bertanya apakah tempat itu kosong si anak langsung menjawab dengan galak,

“Kursi yang itu untuk ibu saya yang pesan makanan, yang dua lagi untuk bapak dan om saya yang sedang menuju ke sini….! “

Pemandangan yang paling umum adalah yang saya sebut berbuka “ala raja”, dimana sebuah “hidangan lengkap” bahkan “istimewa” siap disantap satu orang sebagai ajang “balas dendam” atau dianggap “upah” yang pantas diterima setelah manahan lapar dan haus seharian. Beberapa lauk dan sayur. Ditambah beberapa macam minuman. Tak lupa nasi dan buah. Merupakan porsi “satu orang” yang lazim terlihat pada saat berbuka di Mall.

Teman saya yang lulusan pesantren pernah bilang,
“Sifat manusia bisa terlihat disaat berbuka puasa, bos….”
“Maksudnya apa nih…? “ tanya saya penasaran.
“Yah, seperti berapa sabar kita bisa menunda pemenuhan nafsu kenyang kita…, dan seberapa banyak makanan yang langsung kita santap tepat saat buka, ada yang saat buka puasa pada bulan ramadhan justru lebih “galak” ketimbang makan di bulan lain, semua menunjukkan ego kita selama kita hidup….”, katanya menjelaskan.
“Saat berbuka sebenarnya ujian lain baru berlangsung dan akan berlangsung…..”, lanjutnya.
“Apa tuh mas…? “, makin penasaran saya.
“Inti buka puasa sebenarnya hanya membatalkan puasa bukan aksi adu kenyang “pol-polan”. Sejauh mana puasa di siang hari itu membekas pada diri kita pada malam harinya, dan niscaya akan membekas di bulan-bulan berikutnya, itu yang lebih penting…..
Kalo pas buka dan setelahnya aja kita udah ilang kontrol, gimana di bulan lain setelah Idul Fitri…..yah, nggak ada bekasnya, bos, percuma tuh puasa sebulan…..! “

Obrolan diatas sebenarnya sudah agak lama terjadi, namun tetap terngiang di telinga saya sampai saat ini. Bahkan di saat bukan bulan puasa pun tetap membekas. Terlebih lagi banyak diantara kita yang justru “menjauh” dari makna puasa itu sendiri.

Paling tidak menurut saya, puasa seharusnya bisa melatih kita untuk hidup lebih “wajar”. Wajar dalam berkehendak. Puasa adalah momen disaat kita harus menghapus ego kita, mengembalikan segala keputusan kita kepada hati bukan kepada logika yang seringnya malah memenangkan kita tanpa memikirkan orang lain. Yang kalau kita analisa kembali banyak perbuatan yang menyakiti dan melanggar hak orang lain lahir dari tindakan yang “berlebihan” atau tindakan yang diluar kewajaran.

Mencari harta tanpa kewajaran sering berakhir pada diambilnya hak orang lain.
Memaksakan kehendak kita diluar batas kewajaran sering berakhir pada penganiayaan.
Memaksakan apa yang kita ingini tanpa melihat kewajaran pada kebutuhan kita saat ini sering berakhir pada menumpuknya tagihan hutang kartu kredit.
Memaksakan “masuknya makanan” diluar batas kewajaran sering berakhir pada ketidaknyamanan perut atau bahkan lebih parah lagi sakit di kemudian hari.

Dengan menekan (jika bisa menghapus) ego kita, diharapkan kita akan kembali ke kewajaran hidup yang membuat kita berdamai pada diri kita sendiri sehingga tercermin dari perbuatan-perbuatan kita yang minim ego dan minim dari menyakiti orang lain.

Untuk menutup tulisan ini saya coba mengutip lagi obrolan saya dengan teman diatas,
“Bulan Ramadhan itu bulan latihan bos…..” ujarnya kemudian.
“Lho, bukannya bulan suci….? “, tanya saya.
“Yang suci itukan perbuatan manusia yang beribadah dengan khusyu pada saat bulan Ramadhan, bukan bulannya yang suci, lagian intinya kan semua bulan diciptakan Allah itu sama, tidak ada bulan yang buruk atau bahkan yang lebih suci dari yang lain……”
“Saya lebih suka bilang bulan Ramadhan itu bulan latihan…..”
“Jadi gini lho, bos, kalo bulan Ramadhan itu adalah bulan latihan maka katakan yang kita lakukan pada saat Ramadhan kita beribadah 100% maka pada saat 11 bulan lain seharusnya bisa 200% bos, kan udah dilatih tuh pada saat bulan Ramadhan…..”
“Nah, kalo kita bilang bulan Ramadhan itu bulan suci takutnya ada yang nganggep bulan lain itu bukan bulan suci dan dianggap boleh berlaku tidak baik….bisa berabe tuh bos….”, lanjutnya menyelesaikan penjelasan.

Mari kembali ke fitri….
Mari kembali ke kewajaran….

Oleh: ronnydm | September 28, 2007

KRISMON BABAK KEDUA

Isu tentang krismon babak kedua yang marak beberapa waktu yang lalu, sempat menggangu pikiran saya. Bukan karena takut akan terjadi krismon lagi, tapi lebih kepada pemikiran-pemikiran yang mungkin terkait dengan gaya hidup orang jakarta sekarang ini atau lebih tepatnya gaya hidup ketika kita sudah “dianggap” survive dari krismon 98 yang lalu.

Dari yang saya tahu, pada waktu krismon tahun 98 muncul istilah “buble economy”, yang kalau menurut bahasa saya yang awam soal ekonomi mungkin banyaknya “kekuatan ekonomi” yang “tidak real” yang dilakukan pemerintah pada saat itu melalui kebijakan-kebijakannya. Ambil contoh saja kebijakan kurs untuk menahan (baca : mensubsidi) rupiah di level “enak” Rp. 2500,- -an, menahan (baca juga : subsidi) laju kenaikan harga bahan bakar di level “nyaman”-nya para pemakai kendaraan roda empat, mendorong sepenuhnya pinjaman (baca : buble capital) pada pembangunan sektor riil khususnya property, sampai dengan “mensubsidi” proyek teknologi dirgantara yang kalau dihitung sampai saat ini malah sudah signifikan sekali merugikan negara, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang membuat tokoh ekonomi kita pada saat itu sampai dipanggil dengan sebutan “begawan”, yang mungkin karena mahirnya “menyulap” kemampuan riil negara menjadi kemampuan “semu” yang lebih enak “dilihat”, “dirasakan” dan akhirnya sama-sama kita sukai.

Dari semua itu, sebagian besar kebijakan tersebut memang punya satu kesamaan, yaitu sama-sama membangun bisnis/proyek yang riil dengan pondasi “tidak riil”.

Dalam kasus modal pinjaman, pinjaman menjadi “buble” kapital jika dialokasikan pada proyek yang “oversuply” produksi atau proyek yang demandnya saja tidak jelas. Atau pada proyek-proyek mercusuar dimana “demand”-nya adalah proud negara terhadap negara tetangga atau proyek-proyek semacam “lo bikin gue juga bikin”, yang pada saat itu banyak dilakukan oleh pengusaha-pengusaha muda yang seolah-olah bisnis adalah “mainan”.

Sampai pada satu titik tertentu kita memang merasa perekonomian stabil. Gilanya lagi kita terbuai sampai-samapai terkadang saat ini kita merasa : “kok lebih enak” dulu ya ketimbang setelah reformasi ?

Gimana nggak, pada saat itu kita termasuk negara dengan harga jual bahan bakar minyak termurah, kurs dollar terhadap rupiah yang kuat dan stabil. Yang semua itu sama-sama kita respon dengan aksi konsumsi yang luar biasa, karena semua terlihat murah. Tanpa kita sadari kita sudah “berpartisipasi” untuk hidup dalam perekonomian “mimpi”.

Walaupun pada akhirnya kita ikutan teriak alias turun ke jalan ikut aksi reformasi, menyalahkan pemerintah kala krismon menerpa. Padahal pada saat itu, pemerintah dan rakyatnya setali tiga uang, yang satu menerapkan ekonomi mimpi dan yang lain ikut terbuai bak anak manja yang dimanja oleh “orang tuanya”.

Sebenarnya “buble” akan menjadi bukan “buble” jika fundamental ekonomi suatu negara kemampuannya bisa menyokong “buble” tersebut. Atau secara matematisnya kalo buble-nya 20 maka fundamental ekonomi negara seharusnya 100. Jadi negara masih bisa menyokong buble tersebut. Dan survive jika resesi regional/dunia melanda.

Tapi apa yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya. Buble-nya 100, fundamental ekonominya hanya 20, bahkan kurang. Kalo dianalogikan kepada kehidupan berumah tangga, kira-kira negara kita ini “besar pasak daripada tiang” atau “nafsu besar tenaga kurang”, yang memang menggambarkan secara presisi potret sebagian besar masyarakat kita pada saat itu…..KONSUMTIF, lebih suka hidup dalam angan-angan sekarang dan membenci untuk “menunda kesenangan”.

Setelah kurang lebih 10 tahun berlalu, kembali isu krismon merebak. Beberapa ahli ekonomi meyakini akan terjadi dalam waktu dekat, namun banyak juga yang menyangkal. Saya sendiri sih tidak tahu karena sekali lagi saya tidak punya latar belakng pendidikan ekonomi.

Tapi dalam 3-5 tahun terakhir saya mencatat ada beberapa fenomena unik yang terjadi.

Fenomena pertama adalah fenomena yang diceritakan oleh teman saya yang bekerja di bagian penagihan hutang kartu kredit sebuah bank asing. Sebut saja namanya Ridman.

Menurutnya sekarang ini banyak sangkutan hutang kartu kredit dari kalangan menengah kebawah, atau paling tidak baru ketahuan seorang terhutang dari kalangan tersebut setelah tidak mampu melunasi hutang. Bahkan terkadang gaji riilnya saja tidak mencukupi limit dari kartu kredit yang dimilikinya. Ironis jika dibandingkan 10-15 tahun yang lalu, dimana kartu kredit hanya dimiliki oleh kalangan tertentu (baca : menengah keatas) saja.

“Lho kalo’ udah tahu pengahasilannya tidak mencukupi dari limit kartu kredit, kenapa permohonannya diloloskan….?”, tanya saya kepada teman saya itu.
“Kan slip gajinya “mengatakan” mampu bos….”, tukas teman saya lagi.
“Emang nggak di cross check ama analis loe…, ditelpon kek ke HRD-nya atau datengin kek ke kantornya, biar yakin….?” lanjut saya.
“Udah ditelpon kok, tapi kan emang biasanya orang Jakarta kalo mau punya kartu kredit pertama kan pada mark up gaji, alias minta tolong HRD buat bikin struk gaji sementara….”, jawab teman saya lagi.
“Hehehe…iya juga sih, persis kayak di kantor gue dulu….., tapi kalo banyak tunggakan bukannya bank loe yang rugi…..?”, tanya saya lagi.
“Wah kalo di perbankan sih yang namanya rugi itu kalo nggak ada yang minjem bos, lha wong “makannya” kan dari bunga pinjaman…..kalo nggak ada pinajaman ama nggak ada yang nunggak gue bisa nggak digaji bos……”, sahut teman saya lagi dengan terkekeh.

Setelah ngobrol dengan teman saya ini, saya jadi teringat dua kasus menarik yang sekarang ini banyak sekali muncul ke permukaan.

Yang pertama adalah, tanpa bermaksud apa-apa tentunya, saya pernah mengenal seorang office boy dari sebuah perusahaan swasta yang memiliki dua buah kartu kredit yang bisa “lulus” karena kontribusi bagian HRD “menyulap” struk gajinya.

Kasus yang lain adalah seorang staff senior di perusahaan swasta yang punya hutang sampai dengan 30 juta rupiah dari 5 kartu kredit berbeda (yang kalau ditotal limitnya melewati gaji bulanan yang itupun sudah ditambah gaji suaminya) dan sudah satu tahun belum bisa melunasi.

Fenomena kedua yang juga menarik adalah semakin beeragamnya barang yang bisa dikredit. Dulu barang yang bisa dikredit adalah barang yang tergolong lux, seperti mobil, rumah, dan perlengkapan elektronik. Namun sekarang seolah semua barang bisa dikredit. Singkatnya panci pun sekarang sudah bisa dikredit.

Fenomena ketiga yang saya temui adalah gencarnya penawaran kartu kredit dan KTA (kredit tanpa agunan). Fenomena ini dirasakan langsung oleh teman saya yang sampai-sampai harus memalsukan data supaya permohonan kartu kreditnya ditolak oleh analis kartu kredit bank terkait, karena sudah pusing dengan penawaran dari para sales yang seolah-olah “selalu ada” di mana saja.

Lain lagi dengan penawaran KTA. Kalo yang ini saya sendiri mengalami pengalaman yang menggelikan.

Setelah satu tahun keluar dari perusahaan tempat saya bekerja karena memilih untuk merintis hal lain secara mandiri. Justru dalam kondisi “tanpa keterikatan” inilah tawaran dari sebuah bank untuk mengambil KTA gencar saya terima, bahkan dengan dalih saya sebagai nasabah yang terpilih. Lucunya lagi setelah saya melontarkan alasan bahwa saat ini saya tidak punya kebutuhan dan keinginan yang mendesak sehingga harus mengambil “fasilitas” itu, lagipula saat ini juga saya bekerja mandiri alias belum ada jaminan dari perusahaan atau badan hukum lain, namun si sales dengan santai dan penuh rayuan menjawab :

“Nggak pa-pa pak diambil aja dulu fasilitas KTA-nya nanti juga pasti kebutuhannya muncul sendiri, mengenai jaminan perusahaan, bisa saya usahakan cara lain, lagian inikan tanpa agunan pak…..”

Tiga fenomena diatas, menurut saya, mempengaruhi kecepatan tumbuhnya “hutang tidak produktif” di sektor retail atau perorangan. Saya bukan anti berhutang/kredit, tapi harus disadari bahwa sebagian besar masyarakat kita masih “abu-abu” dalam kecerdasan finansial, apalagi untuk urusan hutang, dimana lebih menganggap hutang sebagai kesempatan untuk memperoleh sesuatu apa yang kita ingini dengan lebih cepat, atau bahkan lebih parahnya kemudahan dalam berhutang dianggap menjadi gaya hidup tertentu dan dianggap sebagai “entry point” untuk naik ke kelas sosial yang lebih tinggi.

Nah motivasi seperti itulah yang membuat hutangnya orang Jakarta kebanyakan adalah hutang yang “buruk” alias tidak produktif.

Sejauh apa fenomena diatas mempengaruhi kemungkinan terjadinya kembali krismon, mungkin masih jauh dari perhitungan. Namun yang jelas jika buble (baca : hutang) ekonomi tidak di back up dengan fundamental ekonomi yang kuat maka akan benar-benar menjadi buble yang siap meledak.

Untuk tingkat rumah tangga jika kebiasaan mengkonsumsi tidak dibarengi dengan perhitungan kecerdasan finansial, apalagi pemenuhan konsumsi hanya di-“drive” oleh keinginan semata, maka perilaku konsumsi bangsa ini masih sama seperti sebelum krismon babak pertama dulu, atau bahkan lebih parah.

Analoginya adalah jika dulu yang berhutang adalah “kelas kakap” dengan jumlah dana yang juga “kakap” sekarang yang gemar berhutang adalah konsumen kelas retail alias ya, kita-kita ini, yang walaupun jumlahnya hanya “recehan” namun volumenya bisa berpotensi menjadi besar, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang juga besar. Yang kalau diterjemahkan ke ilmu uang : “yang besar tapi diambil sekali akan sama dengan yang kecil tapi diambil berkali-kali (baca : dengan volume yang banyak)”.

Di kelas retail jumlah hutang per individu akan terlihat kecil tapi jika dikalikan dengan volume manusia yang berhutang maka akan berpotensi menjadi besar dan menjadi buble jika tidak dikejar dengan kecepatan perbaikan pada fundamental ekonomi. Disisi lain faktor pembenahan fundamental ekonomi hanya dikontrol oleh pemerintah. Peran kita hanya sebatas kontrol pada konsumsi, tidak lebih tidak kurang.

Seharusnya karena pengalaman krismon terdahulu, karakter konsumtif bangsa ini mestinya sudah berkurang, walaupun saya pesimis itu sudah terjadi.

Menjadi konsumtif atau tidak itu pilihan hak masing-masing, namun jika krismon kedua tetap terjadi, yah tidak usah protes dan marah kepada pemerintah, lha wong kita juga kok yang gotong royong menjerumuskan bangsa ini untuk kembali terpuruk….semua pilihan kan ada resikonya.

“Jadi bagaimana dong, lha wong kebanyakan dari kita berhutang karena untuk memenuhi kebutuhan….?”

Saya hanya bisa jawab, terkadang kita tidak bisa mengklasifikasikan antara kebutuhan dan keinginan, antara kebutuhan dan gaya, antara kebutuhan sekarang dan kebutuhan nanti. Intinya sekuat apa kita bisa “menunda kesenangan”. Hanya menunda saja kok, bukan meniadakan. Jangan sampai statement “kebutuhan” menjadi pembenaran untuk memenuhi “keinginan” konsumtif kita.

Andai saja kita sedikit lebih sabar dalam membeli apa yang kita angan-angankan….

Oleh: ronnydm | September 12, 2007

LAMPU MERAH, BERHENTI !

Menunggu giliran jalan saat lampu merah menyala, di salah satu persimpangan jalan protokol yang ramai di Jakarta memang bukan perkara mudah. Bukan karena tidak sabar menunggu, namun lampu lalu lintas di Jakarta bisa berarti bermakna lain. Sejak komposisi warna menjadi acuan jalan, siap berhenti dan stop pada lalulintas kendaraan, seharusnya menjadi bahasa universal di setiap arus lalu lintas di muka bumi ini, atau bahkan di alam semesta lain juga mungkin berlaku hal yang sama.

Warna hijau yang bisa berarti ketenangan diterjemahkan sebagai “aman untuk berjalan” atau “giliran anda jalan”, warna kuning berarti kurangi kecepatan atau bersiaplah untuk berhenti dan tentu saja warna merah yang secara universal menandakan emergency, bahaya yang dalam per-lalu lintasan berarti berhenti tanpa terkecuali dan biarkan orang lain lewat dahulu.

Semua “pengendara” moda angkut yang ada di Jakarta, mobil dan motor bahkan pengendara sepeda dan pejalan kaki, sadar atau tidak sadar “mestinya” merasakan hal yang berbeda dari definisi warna lampu tersebut, baik sebagai pihak yang “dirugikan” atau sebagai pihak yang justru “merugikan”. Pihak yang terakhir kelihatannya merupakan pihak mayoritas pengguna jalan dan biasanya tidak terlalu “sadar” akan tindakannya.

Kita mulai dari anomali lampu hijau. Pada saat lampu hijau menyala paling sering disertai oleh simfoni klakson kendaraan yang biasanya berada di grid kedua sampai ke belakang. Lampu hijau seolah berarti “bunyikan klakson anda” atau bahasa kejiwaannya ; “jika lampu hijau menyala segeralah klakson kendaraan di depan anda agar anda tetap kebagian lampu hijau tersebut”.

Lampu kuning punya cerita yang sedikit berbeda. Berbeda lantaran anomalinya terlihat justru pada saat kendaraan sedang berjalan. Sering kita lihat kendaraan yang tadinya lemah lembut saat akan melalui lampu yang masih hijau berubah menjadi mobil atau motor balap yang kencang saat sadar lampu sudah berubah jadi kuning. Lampu kuning berarti ; “injaklah atau putarlah pedal gas atau tuas gas anda sedalam-dalamnya, jangan sampai anda terperangkap lampu merah”. Yang terjadi kemudian menjadi lucu, kendaraan yang benar-benar akan siap berhenti karena faham benar makna warna kuning, malah dilakson habis-habisan dengan kendaraan di belakangnya seolah dipaksa jadi “pembalap” juga.

Sudah barang tentu lampu merah-lah yang punya definisi anomali amat “fenomenal”. Bayangkan saja, cuma gara-gara lampu merah sering terjadi kecelakaan beruntun dari kendaraan-kendaraan yang “terlanjur” jadi pembalap saat lampu kuning menyala dan seolah “lupa” bahwa di kendaraanya ada elemen teknis yang namanya rem. Belum lagi sebagian kendaraan roda dua yang “senang” menunggu lampu merah “melebihi” batas yang ditentukan sehingga menyulitkan pejalan kaki untuk lewat di zebra cross, yang mungkin menjadi lebih cocok jika diberi nama zebra zig-zag karena toh harus berjalan “zig-zag” melewati motor-motor. Lampu merah yang baru saja menyala juga lebih sering diartikan sebagai ; “kalo kendaraan dari arah lain masih kosong atau belum lewat, kita masih bisa lewat asal tekan dan putar gas dalam-dalam”. Alih-alih sebagai sinyal berhenti, malah diaanggap sebagai sinyal untuk “jalan asal kesempatan masih ada”.

Lain lagi cerita tentang lampu sein. Yang fungsinya untuk memberi tanda pada kendaraan lain jika kendaraan kita akan belok atau mengambil antrian. Lampu sein mengingatkan saya akan cerita salah satu teman saya yang ke kantor menggunakan mobil. Sebut saja namanya Ekky.

“ Wah kalo nyalip di Jakarta sih jangan pernah deh nyalain sein…..”, tukasnya.
“ Lho kenapa begitu brur….? “, tanya saya kurang mengerti, maklum saya lebih sering naik bis akhir-akhir ini, mengingat sekarang lebih sering bepergian jarak pendek (kurang dari 20km).
“ Di jalan sih lucu…., kita mau nyalip baik-baik dengan nyalain sein ‘jauh-jauh hari’, kendaraan lain yang kita minta malah nglakson dan ngegas buat ngeblok jalan kita….padahal sebelum sein dinyalakan jaraknya jauh dan cukup untuk mobil gue masuk ! ”, jawabnya dengan nada kesal.
“Masak sih…? Trus gimana dong kalo mau nyalip biar dikasih…?”, tanya saya lagi.
“Begitu ada kesempatan, langsung masuk aja…. Nah biasanya kendaraan yang belakang kaget dan akhirnya nglakson juga sih…..baru deh kita nyalain sein…., yang penting kan dapet tuh posisi….”, tukasnya sambil tertawa garing.
“Yah kalo gitu mobil loe ngapain ada lampu seinnya….”, jawab saya sambil bercanda.

Di jalan raya memang banyak orang yang akhirnya tiba-tiba jadi orang “pelit” atau merasa jalan raya dulunya bagian dari tanah leluhurnya, sehingga merasa sangat-sangat tidak rela jika ada kendaraan lain menyalip di depannya.

Padahal kalau ditilik lagi, lampu lalu lintas dan lampu-lampu lain yang ada di kendaraan, selain untuk memudahkan pengaturan lalu lintas dan berkendara juga digunakan untuk mengatur hak dan kewajiban dari pengguna jalan, yang diatur secara bergiliran sesuai dengan “hak”-nya. Jika “hak”-nya sedang dapat lampu hijau berarti meamang harus jalan begitu juga sebaliknya, jika “hak” kita sedang merah harus berhenti.

Nah jika pengertiannya demikian maka anomali dari definisi yang berbeda dari lampu lalu lintas justru malah melanggar hak orang lain, atau lebih tepatnya “mencuri” hak orang lain.

Pada saat lampu merah, tapi kita masih nekad jalan, maka kita baru saja “mencuri” hak pengendara lain yang akan jalan. Pada saat lampu kuning, kita malah meng-klakson kendaraan di depan kita maka kita baru saja “mencuri” hak-nya untuk bersiap-siap berhenti. Begitu juga jika lampu hijau, jika kita dengan semangat 45 meng-klakson mobil di depan kita untuk jalan, maka kita baru saja “mencuri” hak dia untuk bersiap-siap dengan tenang masuk gigi satu. Jika kita “tutup” jalan sebuah mobil atau motor yang akan menyalip kita setelah memberi tanda sein, maka kita baru saja mengambil haknya untuk memakai bersama jalur yang searah dengan kita.

Jika kenyataannya demikian, maka korupsi (baca : pencurian hak) sudah terjadi saat kita berangkat ke kantor, ke pasar, ke mall, ke sekolah, dll. Kelihatannya sepele, tapi efeknya adalah sama saja dengan mencuri “hak” orang lain, dan seringnya “korupsi” di jalan ini dilakukan berjamaah dan bergotong royong sesama moda angkut yang sama.

Apakah kendaraan yang sudah kita miliki masih kurang sebagai alat bantu yang memudahkan kita dan perlu kita syukuri kepemilikannya, atau bahkan terkadang untuk mengaktualkan diri kita, sehingga kita masih perlu “mengambil hak orang lain” di jalan ?

Anomali definisi lampu ini juga mengandung definisi egoisme di jalanan. Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya adalah para pemakai jalan di Jakarta sebenarnya adalah korban dari “keterdesakan” yang tidak perlu. Atau lebih tepatnya jika kita merasa sebagai “korban” maka disitulah selalu timbul egois atau mau menang sendiri.

Pengendara motor sering merasa dirinya “korban” dari “kesulitan” dan merasa sebagai pengendara kelas dua atau yang dianak tirikan di jalan sehingga mereka merasa pengendara mobil harus “mengalah” pada mereka, pengendara mobil merasa dirinya sebagai “korban” dari pajak yang harus dibayar lebih mahal, merasa sebagai konsumen bahan bakar yang lebih banyak, sehingga merasa butuh untuk “diistimewakan”, para pengemudi kendaraan umum merasa dirinya adalah “korban” sistem bisnis yang mengharuskan mereka “kejar setoran” sehingga mereka merasa boleh dimaklumi jika ugal-ugalan di jalan.

Singkatnya jika kita merasa sebagai korban maka kita seolah merasa sebagai bagian dari yang “terdesak” sehingga butuh aktualisasi diri baru dan butuh pembenaran untuk “menang”, yang tentu sifatnya “mendesak” dan merugikan orang lain jika direalisasikan. Dari sanalah ego kita bersumber.

Saya cuma membayangkan jalan di Jakarta dimana para pemakai mobil bisa lebih memahami sulitnya para pemakai motor yang perlu keseimbangan dan energi yang lebih melelahkan untuk mengontrol kendaraannya, sehingga lebih bisa menerima dan memaklumi. Toh para pemakai motor malah perlu diacungi jempol, karena sudah berupaya untuk lebih “hemat” dalam pemakaian bahan bakar dan mengkontribusikan lebih sedikit pemanasan global.

Atau para pemakai motor yang bisa merasakan sulitnya para pejalan kaki saat menyebrang, akan naik dan turun ke dan dari bis, jalan di trotoar sehingga tidak menyalip dari sebelah kiri yang akan menyulitkan orang yang akan naik dan turun bis, tidak perlu memakai trotoar pejalan kaki untuk potong jalan sehingga pejalan kaki lebih aman jika melaluinya.

Begitu juga para pemakai bis, metromini dan kopaja, yang bisa lebih bijak untuk membayar penuh dan bukan karena jarak tempuh lantas hanya membayar setengah, toh sebenarnya jauh dekat kan tetap harus dibayar “full”. Sehingga tidak perlu membuat stress pak supir dan kondektur dalam mengejar setoran. Dan berharap pak supir jadi bisa lebih bijak saat di jalan.

Lantas kenapa semua ini masih terasa sulit untuk kita lakukan ?
Apakah karena kita merasa kitalah orang yang paling sibuk dan menjadi sangat perlu didahulukan di jalan ?
Apakah karena kita adalah bagian dari orang-orang “kalah” sehingga masih perlu kemenangan dengan mengorbankan orang lain ?
Kurangkah kendaraan yang kita pakai untuk menunjukkan gaya hidup kita, sehingga kita masih perlu menunjukkan itu semua dengan arogansi kita di jalan ?
Atau karena kita merasa menjadi seseorang yang perlu “dihormati” sehingga perlu didahulukan ?

Jika kita bukan bagian itu semua, mulai saat ini saya tantang anda semua, untuk menjadi pemenang sebenarnya dengan mendahulukan, memberi dan menghormati hak orang lain di jalan.

Berhentilah jika lampu merah !
Dan berhentilah mengambil hak orang lain di jalan…..

Oleh: ronnydm | September 12, 2007

JALAN TIKUS

Mungkin hanya ada di perbendaharaan kata slank Indonesia saja. Istilah “jalan tikus” banyak dikenal di kalangan komuter, terutama yang naik kendaraan pribadi baik mobil, motor pribadi atau yang “ngojek” dan juga dikalangan pengemudi angkutan umum, yang jika terpaksa tidak melalui jalur yang sudah ditentukan trayeknya. Istilah “jalan tikus” kurang atau tidak dikenal di kalangan pejalan kaki karena sifat pejalan kaki yang sangat fleksibel, hampir tidak perlu jalur khusus, selain pedestrian yang itu juga kadang dipakai oleh moda angkut roda dua dan dianggap sebagai “jalan tikus”.

Secara definisi, “jalan tikus” bisa berarti jalan pintas atau jalan potong, bukan jalan protokol atau kolektor, dan memang biasanya jalan lingkungan atau gang. Namun yang banyak berkembang sekarang bukan hanya jalan lingkungan atau gang yang dianggap “jalan tikus”, tapi jika situasi makin mendesak, pedestrian, jembatan penyebrangan bahkan “jalan tikus” yang melawan arus kendaraan menjadi populer dikalangan kendaraan bermotor beroda dua.

Ada ciri lain dari “jalan tikus” ini yang menurut pemakainya sangat khas. Para pemakai “jalan tikus” biasanya mengklaim bahwa jalannya “belum” banyak diketahui orang, sehingga menjadi akses alternatif cepat/potong jalan dari kemacetan lalu lintas. Yang walaupun juga tidak ada yg bisa menjamin bahwa pemakai yang tahu “jalan tikus” tersebut jumlahnya tidak melebihi kapasitas lebar jalan yang bersangkutan.

Jadi teringat pengalaman saya ketika dibonceng teman naik motor beberapa waktu yang lalu. Saat itu kami akan menuju ke daerah MT Haryono dari Mampang Prapatan. Karena bertepatan dengan pembangunan jalur khusus bus TransJakarta, maka banyak pengendara kendaraan pribadi yang “tidak tahan” lewat jalan di sepanjang Mampang, tak terkecuali kendaraan roda dua. Kami, yang waktu itu naik motor juga akhirnya mencari alternatif jalan agar tepat waktu sampai tujuan dan tidak terlalu banyak “turun kaki”, begitulah kira-kira istilah di kalangan pengendara motor. Kebetulan juga teman saya “mengklaim” bahwa dirinya tahu banyak “jalan tikus” di daerah Pasar Minggu.

“Tenang, gampang deh, kalo daerah sini sih bagian gue, gue apal “jalan tikus” yang sepi. “ begitulah kira-kira katanya menenangkan keadaan. Saya yang cuma dibonceng cuma bisa bilang, “Oke, terserah loe deh, yang penting lancar”.

Setelah memotong di Jl H Samali, dan sedikit berkelok-kelok untuk masuk ke Jl. Empang Tiga, sampailah kami di sebuah jalan yang lebih tepat disebut “kakak”-nya gang karena hanya bisa dilalui dua mobil pas. Cukup lancar dan sepi karena memang hanya sebuah jalan lingkungan (perumahan).

Namun tak beberapa jauh kami merasakan nikmatnya lancar dan sepi, kami harus tertahan dibelakang metromini yang sedang mencoba untuk lewat karena berpapasan dengan sebuah Honda Jazz. Sepintas pertanyaan di benak saya, “Kok, bisa-bisanya metromini lewat sini…?”, yang juga saya yakin menjadi pertanyaan dari teman saya itu dan para penghuni rumah yang sudah mulai keluar rumah atau sekedar melihat kegaduhan klakson mobil dan motor dari lantai dua rumahnya….

Setelah metromini “terbebas” ternyata belum selesai juga “penderitaan” kami, teman saya maksudnya, karena harus berkali-kali “turun kaki” untuk menjaga keseimbangan sekaligus berat beban motornya. Metromini tersebut adalah bagian belakang dari antrian kendaraan roda empat dan dua yang antri untuk keluar dari jalan tersebut. Masalahnya sebenarnya sepele, ternyata banyak orang yang tahu “jalan tikus” tersebut dan membuat jalan tersebut overload, karena banyaknya papasan dengan kendaraan yang masuk.

Singkatnya, akhirnya kami sampai tujuan dalam kondisi yang tetap terlambat.

Fenomena “jalan tikus” ini sebenarnya muncul karena adanya “keterdesakan” yang tidak penting untuk menyelesaikan masalah kita dalam perjalanan. Kenapa saya bilang ini adalah “keterdesakan” yang tidak penting, karena munculnya “keterdesakan” ini disebabkan belum adanya penyelesaian masalah yang signifikan dari penyelenggara kota, sebagai satu-satunya pemilik wewenang dalam memperbaiki lalu lintas. Yang akhirnya masalah ini “diserah terimakan” pada pengguna jalan untuk menyelesaikannya sendiri sebagai “bonus” telah membayar pajak kendaraan.

Alih-alih menyelesaikan masalah, pengguna jalan malah menterjemahkan “jalan tikus” ini dengan caranya sendiri-sendiri, karena merasa sudah terjebak dengan “keterdesakan” lain, yaitu dari yang hanya kebutuhan untuk sampai tujuan, menjadi kebutuhan untuk sampai tepat waktu tanpa terkecuali.

Kalau dipikir-pikir para pengguna jalan di Jakarta, tiap paginya lebih sibuk memikirkan “operating procedure” bagaimana sampai di kantor tepat waktu, jalan tikus mana yang akan dipakai, plus kondisi darurat lain seperti banjir, demo, penutupan sementara karena VIP lewat dan lain-lain, ketimbang memikirkan dan mulai fokus dengan tugas di kantor. Suatu kerugian “spiritual” yang berpotensi menjadi rugi “materil” bagi para pengguna jalan dan pada akhirnya kota Jakarta itu sendiri.

Jika pengguna jalan di Jakarta ditantang, maka tantangan yang paling tidak mungkin ditaklukkan di Jakarta adalah untuk melakukan meeting di empat tempat di Jakarta, katakan dari Jakarta Selatan lalu meeting ke Jakarta Utara kemudian meeting di Jakarta Timur lalu terakhir ke Jakarta Barat, yang harus diselesaikan pada hari itu juga dalam jam kantor reguler “nine to five”, naik mobil, yang masing-masing meetingnya hanya berdurasi katakan 1 jam saja, saya jamin jika mesti naik motor pun tetap akan kesulitan.

Dalam waktu dekat dan “mendesak”, yang bisa dilakukan hanyalah berangkat lebih pagi lagi, ubah moda angkut anda menjadi lebih kecil, beli peta Jakarta dan perbanyak “hafalan” “jalan tikus” ke tujuan anda.

Sampai kapan ?

Hanya yang berwenang yang tahu…..

Kategori