Jika ingat masa-masa sekolah/kuliah dulu. Saya sering tertawa kecut jika mengingat kenangan saya dalam menjalankan “strategi” contek-mencontek jika ujian/kuis tiba. Bukan karena takut tidak lulus, tapi lantaran “gengsi” jika cuma lulus dengan nilai kecil atau C. Pengetahuan yang minim “coba” ditutupi degnan catatan-catatan kecil pada sobekan kertas, yang jika saatnya tiba akan dibuka. Banyak alasan untuk membenarkan tindakan tersebut, mulai yang dari….”ah, gue bukanye pas kepepet aja kok”….atau “buat jaga-jaga aja, takut ilmunya tiba2 lupa karena gugup….” Dan beribu alasan lainya, yang toh, sama saja karena akhirnya contekan tersebut juga dibuka saat2 awal baca soal ujian….
Cuma karena urusan takut dapat nilai C, hampir setiap ujian saya “meluangkan” waktu untuk bikin “kebetan”, yang jika saya renungkan lagi sekarang kebetan yang saya buat hanya menjawab 20% pertanyaan saja. Karena, seolah sudah tahu, dosen di kampus saya cukup “kreatif” dalam membuat soal ujian yang “anti” contekan dan hanya bisa dijawab dengan pemikiran kreatif……TERIMA KASIH PAK DAN BU DOSEN……!
Jika dipikir lagi, toh dengan nilai C pun saya sebenarnya sudah lulus….cuma karena takut, gensi, malu dapat nilai kecil, saya rela “membunuh” malu saya yang lain untuk berbuat jujur…….hehehehe….DASAR PENGECUT….!
“Nyontek” hanya contoh kecil dari perbuatan seorang pengecut. Efek jangka pendeknya hanya pada diri sendiri yang sudah dibohongi. Yang repot jika itu sudah menjadi karakter dan diterapkan dalam sisi kehidupan bermasyarakat, maka segala sisi kehidupan yang lain juga akan terkena dampaknya, alias akan merugikan banyak orang.
Ambil contoh, tawuran dan aksi keroyokan atau yang bisa juga disebut “serang rame-rame”- makin sering terjadi. Dari yang mempertahankan diri dari “keroyokan” aparat yang akan menggusur, tawuran antar sekolah, tawuran antar kampus, tawuran antar aparat, ribut antar partai/pendukung, sampai rusuh lantaran “harga dirinya” terlalu “tinggi” untuk menerima kekalahan tim sepakbola kesayangannya sehingga harus beraksi anarkis di luar stadion, semua sudah menjadi berita sehari-hari.
Ada ciri khas yang mirip dari setiap aksi seperti ini yang sering terjadi di Jakarta ibukota Indonesiaku atau bahkan di daerah lain. Yaitu dilakukan “rame-rame”, banyak orang, pakai alat yang bisa memberi “jarak” dari jangkauan lawan seperti batu dan botol untuk dilempar, bahkan galah bambu yang biasa dipakai sebagai umbul-umbul di pinggir jalan juga bisa digunakan. Yang penting bisa “menyerang” sejauh mungkin dari lawan dan mesti “nyerang” rame-rame alias banyak orang.
Dalam menyerang juga seolah punya metode “baku serangan” yaitu “serang ramai-ramai” dan “lari ramai-ramai” jika dapat serangan dari musuh yang lebih ramai….
Agak-agak kontradiktif sih. Mau nyerang (yang juga baru berani jika rame-rame) tapi takut “kontak langsung” dengan lawan yang diserang itu, sehingga perlu jarak karena rasa takut tersebut. Atau singkatnya mau “mukul” tapi takut “benjol” yang juga bisa diringkas dalam satu kata, ya, PENGECUT itu tadi….
*
Beberapa waktu yang lalu ada kasus yang membuat saya miris. Bagaimana tidak, ada seorang petugas polisi yang tewas saat sedang mengamankan kerusuhan. Memang sudah menjadi resiko sebagai seorang polisi untuk menghadapi tugas yang berbahaya. Tapi jika perihal kematiannya adalah tusukan pisau dari belakang adalah lain persoalan.
Sebagai orang yang awam dalam “sidik-menyidik” maka tusukan dari belakang bisa saya maknai sebagai serangan dimana orang yang menyerang takut akan orang yang diserang, atau yang menyerang berusaha “semaksimal” mungkin meminimalkan identitasnya saat akan menusuk. Dengan kata lain juga merupakan aksi PENGECUT.
Lain lagi pada sebuah kasus yang pernah terjadi di lapangan sepakbola. Saat seorang pemain melancarkan protes ke wasit karena seorang temannya diperlakukan keras oleh pemain lawan. Maka dengan serta merta penonton turun dari podium untuk ikut membela tim yang “dicintainya” itu. Tiba-tiba ada seorang penonton yang berlari ke arah wasit, memukul dari belakang dan terus berlari tanpa henti untuk menghindari kejaran aparat yang baru sadar kalau orang yang tadi berlari dari kejauhan telah memukul wasit. Dan lucunya kejadian tersebut terekam komplit oleh salah satu kamera tv swasta, tapi tanpa seorangpun yang bisa mengantisipasi kondisi itu.
Karena kejadian-kejadian itu beberapa stasiun tv sempat membahas bahwa (tanpa bermaksud SARA) ada suku-suku tertentu di Indonesia yang memang memiliki gen darah panas alias cepat marah. Masalahnya adalah, menurut saya, aksi “pengecutwati” tidak bisa langsung dianalogikan dengan temperamen tinggi suatu golongan.
Saya pribadi punya opini lain; bahwa sebagian besar dari bangsa ini sedang “alergi” dalam bertindak BENAR dan BERANI dari “ujung rambut sampai ujung kaki” (baca : dari oknum pemimpin sampai rakyatnya). Kompensasi dan pelampiasannya adalah tindakan-tindakan anarkis ala “pengecut-wati” itu tadi.
Mental “pengecutwati” juga terlihat di kelompok organisasi massa tertentu. Asal serang, asal bredel, asal tutup, asal sweeping jadi bahasa sehari-hari mereka. Tidak peduli yang diserang, dibredel, ditutup, disweeping adalah bangunan, organisasi atau toko dimana saudara-saudara kita yang lain yang tidak tahu persoalan bekerja mencari nafkah untuk anak istrinya. Dan sudah dapat diduga aksi ini dilakukan ramai-ramai (karakter pengecut-wati), sekalian unjuk kekuatan terhadap organisasi yang lain.
Mental pengecut bisa terekam lebih dalam lagi dan pada kelas sosial yang lebih tinggi. Para oknum pemimpin yang “membiarkan” rakyatnya dalam kesusahan adalah cerminan rasa takut akan tanggung jawab yang lebih tinggi untuk membawa rakyat pada kesejahteraan dan kemakmuran.
Para oknum pemimpin yang korup adalah cerminan rasa takut untuk menghadapi hidup yang lebih realistis dihadapan istri dan anak. Atau dengan kata lain takut secara tegas dan benar mendidik istri dan anaknya untuk hidup sederhana tapi jujur ketimbang mengiming-imingi istri dan anak dengan mimpi-mimpi kesuksesan dari harta benda yang diraih secara “mencuri” alias “maling”.
Para oknum wakil rakyat yang lebih memikirkan tunjangan renovasi rumahnya adalah cerminan rasa takut akan kehilangan masa jabatannya yang pada masanya itu belum sempat merenovasi rumah pribadinya yang kelima.
Bahkan tanpa malu-malu, istri dan anak oknum pejabat/wakil rakyat tersebut ikut ambil bagian dalam “pemikiran strategis” bagaimana korupsi (baca : mencuri) yang baik, agar tetap kelihatan bukan “maling” berikut cara “cuci uang” hasil curian tersebut. Walaupun “strategi” menyimpan uang tunai dalam ember dan menguncinya dalam kamar mandi lebih mirip “strategi” orang kehabisan akal ketimbang “maling cerdas”…..
Bukan cuma oknum pejabat dan rakyat kecil saja tapi beberapa golongan profesional yang rela banyak “berhutang” untuk memperbaiki penampilannya sebagai cara menyembunyikan kelas sosialnya yang lebih relistis yang menurut faham “kapitalis” tidak modern atau tidak fashionable, yang sebenarnya hanya takut dibilang ketinggalan jaman atau ketinggalan gaya oleh tetangga dan teman-temannya.
Bahkan di wilayah yang semestinya dapat memberi contoh yang baik, justru terlihat juga aksi “kepengecutan” ini. Beberapa waktu yang lalu sempat ramai akan berita tentang aliran sesat dari penganut agama tertentu. Tanpa bermaksud mendiskreditkan agama dan lembaga tertentu, saya melihat dari sudut pandang keadilan dalam menentukan “standar baku” dari aliran sesat. Jika syariat yang diajarkan memang keliru, dan dianggap menjadi aliran sesat karena “perbedaan” itu maka seharusnya sama sesatnya dengan aliran-aliran yang memilih faham radikal dalam perjuangannya, memilih untuk dengan mudahnya mengorbankan diri (bom bunuh diri) dan juga nyawa orang lain dalam mencapai tujuan, yang memilih menghancurkan gedung kantor dan tempat-tempat umum dalam menerapkan ke-halalan suatu tindakan, yang sering kali tujuannya juga untuk membunuh manusia lain (yang mungkin menurut pandangan golongan tersebut sebagai orang kafir)……!
Ternyata untuk kelompok radikal yang terakhir tidak ada yang berani terang-terangan menyatakan sebagai suatu aliran yang sesat bahkan malah digolongkan sebagai golongan “garis keras”, seolah golongan tersebut sah adanya. Menurut saya, semua golongan, kelompok atau organisasi yang yang memiliki faham “mengabaikan” nyawa manusia dan anarkis adalah sesat juga, karena saya yakin tidak ada satupun agama di dunia ini yang tidak menghargai kehidupan dan alam semesta beserta isinya….
Pukul dari belakang dan lari….
Tusuk dari belakang dan lari….
Serang “rame-rame”….
Bakar “rame-rame”….
Bredel “rame-rame”…
Nyolong duit rakyat “rame-rame” dan “rame-rame” juga ngilangin jejaknya….
Yang penting keliatan gaya walau dari hutang, alias nggak berani dibilang kuno…
Semoga saja mental pengecut ini hanya sebuah “penyakit” belaka bukan gen yang dibawa turun-temurun, karena jika hanya sebuah “penyakit” maka akan selalu ada obatnya, tapi jika sudah menjadi gen, maka perlu beberapa generasi untuk memperbaikinya, lama bokkkk….!
Saya kadang geli jika melihat hal ini dan kadang membandingkan dengan film-film jadul (baca : jaman dulu), yang diperankan oleh om Rano Karno selagi muda. Disitu digambarkan perkelahian anak muda yang jantan, “gentle” dan “one by one”. Jika ada yang kalah maka dengan fair mengaku kalah. Memang hanya film sih, tapi paling tidak cukup membuat lega (?) bahwa generasi muda kita jaman dulu memang jantan dan “gentle” yang berarti “gen” itu masih ada pada anak cucunya. Semoga….
*
Jika membahas perihal pengecut dan pemberani, saya jadi teringat akan cerita-cerita rakyat, baik yang berupa cerita lokal atau dari belahan benua lain.
Ambil contoh saja kisah hidup Miyamoto Musashi, yang juga merupakan kisah nyata. Musashi adalah seorang ahli pedang Jepang yang hidup di salah satu era kekaisaran Jepang. Dari buku yang pernah saya baca, Musashi karangan Eiji Yoshikawa, Vagabond (kisah Musashi yang dibuat komik) karangan Takehiko Inoe, Lone samurai karangan William Scott Wilson dan The Book of Five Ring karangan Musashi sendiri. Diceritakan perjalan seorang anak kampung yang mengejar keinginan untuk menjadi samurai sejati melalui jalan pedang. Musashi seumur hidupnya tidak pernah punya guru pedang atau bela diri dan hanya berguru dari alam serta pengalaman keras yang dialami sepanjang hidup yang menjadi gurunya.
Konon sejak usia awal belasan tahun sudah pernah mengalahkan pemain pedang yang umurnya jauh diatas. Sepanjang hidupnya telah melewati 60 duel yang sebenarnya (baca : duel hidup atau mati, satu lawan satu) dan semuanya dimenangkan olehnya, tak terhitung duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Yang terakhir justru membuat lawan yang tidak seimbang ini sadar bahwa dengan menggunakan tangan saja dia sudah kalah dari musashi, bagaimana jika musashi menggunakan pedangnya ?
Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak becus bermain pedang adalah seseorang yang sangat becus dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Duel yang tidak “fair”-pun pernah dialaminya. Dikeroyok 70 samurai dari perguruan Yoshioka, salah satu perguruan terkenal pada masa itu. Dan Musashi berhasil melumpuhkan hampir semua samurai yang sisanya melarikan diri. Mampu menghadapi 70 samurai seorang diri adalah merupakan keberanian yang luar biasa walaupun didukung juga dengan taktik yang jitu, dengan mengarahkan pertarungan ke pematang sawah, sehingga praktis lawan mendekat satu persatu.
Banyak yang tidak tahu, dalam banyak duel Musashi hanya menggunakan “bokken” atau pedang kayu yang biasa digunakan dalam latihan pedang. Termasuk dalam mengalahkan lawan terberatnya, Sasaki Kojiro, pemain pedang yang “rating”-nya jauh diatas Musashi. Uniknya bokken yang digunakan adalah yang dibuat oleh dirinya sendiri dari sebilah dayung, dan dibuat saat dalam perjalanan menuju ke sebuah pulau tempat pertarungan tersebut berlangsung.
Pertarungan itu dimenangkan oleh Musashi dengan sebuah pukulan keras menghantam kepala yang membuat lawannya tak sadarkan diri. Tapi Musashi amat menyesali mengapa pertarungan itu sampai terjadi. Walaupun sudah berusaha mengalahkan lawannya tanpa membunuh, tapi konon Sasaki Kojiro menjadi cedera berat/cacat setelah petarungan itu.
Namun jarang ada yang tahu bahwa ada seseorang yang mampu mengalahkan Musashi. Dialah Muso Gonosuke, seorang petani yang kemudian mendirikan perguruan ilmu tombak yang perguruannya masih ada sampai sekarang.
Pada saat bertarung dengan Musashi, Muso hanyalah seorang petani yang mempunyai cita-cita ingin menjadi pemain tombak terkenal. Seperti halnya Musashi, Muso juga berlatih dari alam. Berlatih hanya dengan penumbuk beras yang “dikhayalkannya” sebagai tombak.
Dalam pertarungan tersebut ibu Muso, tentu atas persetujuan Muso, meminta Musashi untuk membunuh anaknya jika anaknya kalah. Karena impian Muso adalah bukan menjadi petani, melainkan menjadi pemain tombak terkenal, dia lebih baik mati jika seumur hidupnya hanya menjadi petani.
Karena melihat dilema itu, Musashi iba dan menawarkan melawan muso hanya dengan tangan kosong atau dengan “bokken”. Namun muso menolak dan minta Musashi menghadapinya dengan pedang tajam sementara ia sendiri dengan penumbuk beras.
Pertarungan alot tersebut berakhir dengan dramatis. Pedang Musashi berhasil menempel di leher muso namun tidak melukainya. Muso memintanya untuk membunuhnya sekalian. Namun pada saat itu pula Musashi memperlihatkan bagian perutnya yang membiru yang ternyata terpukul lebih dahulu oleh Muso dan dengan tersenyum Musashi berkata kepada Muso, “jika kau menggunakan tombak sungguhan maka akulah yang akan mati, engkau sungguh berbakat……” Setelah pertarungan itu maka Muso Gonosuke meninggalkan “profesi”-nya sebagai petani dan mengembangkan ilmu tombak, hingga perguruannya berdiri sampai sekarang.
Tak terbayangkan jika dalam pertarungan tersebut Musashi berlaku pengecut dan curang (tidak sportif). Maka perguruan tombak Muso yang terkenal itu boleh jadi tidak akan pernah ada. Sebuah sikap sportif yang luar biasa. Yang hanya bisa timbul dari kematang diri dari tempaan keberanian yang sebenarnya. Kejujuran, keberanian dan kebenaran hanya bisa lahir dari sikap sportif. Dan sikap sportif tidak akan pernah muncul dari seorang dengan mental pengecut. Karena mental pengecut itu adalah hasil dari rasa takut dari hal yang tidak signifikan, yang lebih sering untuk melindungi (secara berlebihan) diri sendiri, keluarga atau sesama golongan.
Memang, bertindak berani, benar dan jujur amat diperlukan oleh bangsa ini, DARURAT…..!!!!!
MENTAL PENGECUT BISA MENGHASILKAN KEKERASAN DAN ANARKIS, karena kekerasan dan anarkis itu timbul dari rasa takut yang berlebihan, yang merasa dirinya adalah manusia “kalah” sehingga perlu mengorbankan orang lain untuk kemenangan pribadi, keluarga atau kelompok, TAPI MENTAL TEGAS, BERANI, BENAR DAN JUJUR JUSTRU BISA MENGHASILKAN KEDAMAIAN DAN PEMAKNAAN HIDUP, termasuk tegas pada diri kita, kemampuan, skill, daya beli dll, yang semuanya itu jangan pernah lagi kita bohongi….!!!!