“Menahan lapar dan haus….”
Adalah jawaban yang paling singkat dan umum jika kita ditanya tentang apa itu puasa.
“Menahan semua nafsu yang membatalkannya….”
Menjadi jawaban yang universal jika pertanyaan yang sama masih muncul karena ke-kurangpuas-an dari jawaban kita yang pertama.
Puasa bukan sekedar aktifitas, paling tidak menurut saya. Karena sebenarnya tidak bisa dijelaskan dengan kalimat singkat. Logikanya begini, jika definisi puasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan hawa nafsu, maka begitu kita berbuka seolah semua “tahanan” itu menjadi “halal” untuk dilanggar. Dan seolah lepas dari “tahanan”, banyak diantara kita yang saat berbuka tiba-tiba menjadi “bayi sehat” alias makan empat sehat lima sempurna tepat begitu beduk dipukul. Sehingga pada saat selesai berbuka selalu diikuti oleh aksi “kekenyangan” yang berdampak pada timbulnya rasa kantuk yang luar biasa, dan macam-macam sindrom lain yang mengarah pada ketidakproduktifan kita saat malam tiba untuk beribadah.
Kalo pengertian yang “keliru” ini masih sekedar diterapkan pada wilayah pribadi sih, masih tidak terlalu besar dampaknya, paling tidak kita sendirilah yang paling merasakan “akibatnya”. Tapi jika diterapkan pada tingkat komunal, maka jadi lain urusan karena sudah “bersinggungan” dengan kepentingan orang lain.
Beberapa waktu yang lalu pada bulan Ramadhan ini, sempat ramai diberitakan tentang aksi sweeping dan penutupan paksa warung-warung makan di siang hari. Kelompok tersebut, katanya punya alasan yang “logis” dan masuk akal (walaupun masih perlu diteliti lagi akal sehat atau bukan), bahwa selama bulan ramadhan aktifitas makan dan minum jangan sampai terlihat di siang hari. Implementasi dari aksi tersebut adalah dengan menutup paksa tanpa peringatan warung-warung (saya sendiri masih heran, kok cuma warung ? nggak restoran atau mall sekalian ?) yang ada di pinggiran jalan.
Kebetulan aksi tersebut diliput oleh beberapa stasiun tv yang akhirnya jelas terlihat bahwa aksi tersebut bukan aksi “simpatik”. Beberapa pedagang menyesalkan aksi tersebut karena diikuti oleh tindakan-tindakan konyol seperti mengambil panci dan kompor untuk masak dan merusak warung-warung mereka.
Dari sudut pandang kelompok tersebut, mereka menganggap bahwa warung makan yang buka di siang hari adalah “kurang” menghormati umat muslim yang sedang berpuasa.
Lalu apakah karena kita berpuasa, sehingga kita perlu marah dan bertindak keras jika ada orang lain yang “mengganggu” kelaparan dan kehausan kita di siang hari ?
Sehingga menghalalkan kita untuk bertindak keras kepada orang lain yang mungkin bukan muslim ?
Apakah tidak ada cara lain yang lebih beradab untuk mengatur ?
Bukankah Islam adalah rahmat untuk semua alam ?
Mengapa kita tidak bisa “merahmati” orang-orang yang sedang mencari nafkah ?
Bukankah umat minoritas justru harus kita lindungi dan kita atur agar masih bisa memenuhi kebutuhan makan di siang hari ?
Mengapa kita tidak bisa mengatur saudara kita yang sedang mencari nafkah dengan cara yang baik ?
Yang mungkin saja nafkahnya di bulan suci ini amat sangat diperlukan untuk kelangsungan hidupnya atau sebagai rejeki yang bisa dibawa pulang ke keluarga saat lebaran nanti ?
Terus terang saya bukan ustadz dan tidak bisa berbicara banyak tentang masalah ini jika sudah masuk kedalam wilayah komunal. Namun sebagai seorang muslim saya amat prihatin, bahwa sebagian dari kita masih banyak yang menganggap puasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Dan fokus hanya pada dua hal itu saja. Menurut saya terlalu dangkal. Maaf. Amat sangat dangkal.
Pada bulan Ramadhan, kebutuhan kita adalah untuk fokus pada puasa itu sendiri bukan pada kebencian akan aktifitas “non puasa”, yang membuat kita menjadi anarkis kepada kelompok lain. Puasa adalah ibadah pribadi kepada Allah dengan pencerminan sikap-sikap sosial yang baik kepada manusia lain dan alam dengan kearifan bukan kekerasan.
Saya akan kembali ke wilayah pribadi saja sekarang (karena saya sendiri takut di fatwa) dan meneruskan opini saya tentang berbuka dan puasa.
Banyak dari kita yang “hilang kesadaran” saat berbuka puasa, bahkan jika berbuka puasa dilakukan di tempat umum-pun ironi ini masih terlihat. Tengok saja jika kita berbuka di mall.
Dari tahun ke tahun, pengalaman berbuka puasa di mall selalu menarik. Bukan karena suasana di mall yang nyaman, tapi selalu ada hikmah yang bisa kita ambil.
Beberapa hari yang lalu, karena jalan yang macet, terpaksa saya banting stir untuk mampir ke mall terdekat untuk sekedar “membatalkan” puasa. Karena sejak berangkat memang tidak berniat berbuka di jalan, maka saya mengabaikan saran istri saya untuk membawa bekal sekedarnya jika harus berbuka di mobil, bekal sekedarnya yang “fungsinya” memang hanya untuk membatalkan saja.
Karena waktu sudah “mepet”, di dalam foodcourt sudah cukup ramai dan sulit pada saat memesan makanan dan mencari bangku kosong. Jika berbuka sendiri di mall, saya biasanya hanya memesan makanan kecil berupa sop hangat dan minuman hangat, biar praktis dan toh saya hanya perlu waktu sedikit untuk “membatalkan” dan kemudian memberikan kesempatan pada orang lain untuk duduk.
Tidak sulit buat saya yang sendirian untuk dapat bangku kosong dipojokan yang kebetulan juga tinggal satu bangku tersisa karena yang satunya dipakai di meja sebelah yang butuh bangku lebih banyak. Dalam 15 menit waktu saya duduk di foodcourt menikmati hidangan “pembatal” saya, cukup banyak “kejadian menggelitik” yang bisa saya lihat. Dan mungkin bisa jadi pelajaran buat kita semua.
Mulai dari kesibukan sebagian orang yang belum dapat tempat duduk tetapi sudah memegang nampan makanan dan mulai “saling sikut-sikutan” untuk berebut tempat kosong.
Ada juga seorang ibu yang meninggalkan anaknya yang masih kecil tanpa takut diculik dan memberi tugas pada anaknya itu untuk menjaga meja dengan kapasitas tempat duduk untuk 4 orang. Alhasil setiap ada orang yang bertanya apakah tempat itu kosong si anak langsung menjawab dengan galak,
“Kursi yang itu untuk ibu saya yang pesan makanan, yang dua lagi untuk bapak dan om saya yang sedang menuju ke sini….! “
Pemandangan yang paling umum adalah yang saya sebut berbuka “ala raja”, dimana sebuah “hidangan lengkap” bahkan “istimewa” siap disantap satu orang sebagai ajang “balas dendam” atau dianggap “upah” yang pantas diterima setelah manahan lapar dan haus seharian. Beberapa lauk dan sayur. Ditambah beberapa macam minuman. Tak lupa nasi dan buah. Merupakan porsi “satu orang” yang lazim terlihat pada saat berbuka di Mall.
Teman saya yang lulusan pesantren pernah bilang,
“Sifat manusia bisa terlihat disaat berbuka puasa, bos….”
“Maksudnya apa nih…? “ tanya saya penasaran.
“Yah, seperti berapa sabar kita bisa menunda pemenuhan nafsu kenyang kita…, dan seberapa banyak makanan yang langsung kita santap tepat saat buka, ada yang saat buka puasa pada bulan ramadhan justru lebih “galak” ketimbang makan di bulan lain, semua menunjukkan ego kita selama kita hidup….”, katanya menjelaskan.
“Saat berbuka sebenarnya ujian lain baru berlangsung dan akan berlangsung…..”, lanjutnya.
“Apa tuh mas…? “, makin penasaran saya.
“Inti buka puasa sebenarnya hanya membatalkan puasa bukan aksi adu kenyang “pol-polan”. Sejauh mana puasa di siang hari itu membekas pada diri kita pada malam harinya, dan niscaya akan membekas di bulan-bulan berikutnya, itu yang lebih penting…..
Kalo pas buka dan setelahnya aja kita udah ilang kontrol, gimana di bulan lain setelah Idul Fitri…..yah, nggak ada bekasnya, bos, percuma tuh puasa sebulan…..! “
Obrolan diatas sebenarnya sudah agak lama terjadi, namun tetap terngiang di telinga saya sampai saat ini. Bahkan di saat bukan bulan puasa pun tetap membekas. Terlebih lagi banyak diantara kita yang justru “menjauh” dari makna puasa itu sendiri.
Paling tidak menurut saya, puasa seharusnya bisa melatih kita untuk hidup lebih “wajar”. Wajar dalam berkehendak. Puasa adalah momen disaat kita harus menghapus ego kita, mengembalikan segala keputusan kita kepada hati bukan kepada logika yang seringnya malah memenangkan kita tanpa memikirkan orang lain. Yang kalau kita analisa kembali banyak perbuatan yang menyakiti dan melanggar hak orang lain lahir dari tindakan yang “berlebihan” atau tindakan yang diluar kewajaran.
Mencari harta tanpa kewajaran sering berakhir pada diambilnya hak orang lain.
Memaksakan kehendak kita diluar batas kewajaran sering berakhir pada penganiayaan.
Memaksakan apa yang kita ingini tanpa melihat kewajaran pada kebutuhan kita saat ini sering berakhir pada menumpuknya tagihan hutang kartu kredit.
Memaksakan “masuknya makanan” diluar batas kewajaran sering berakhir pada ketidaknyamanan perut atau bahkan lebih parah lagi sakit di kemudian hari.
Dengan menekan (jika bisa menghapus) ego kita, diharapkan kita akan kembali ke kewajaran hidup yang membuat kita berdamai pada diri kita sendiri sehingga tercermin dari perbuatan-perbuatan kita yang minim ego dan minim dari menyakiti orang lain.
Untuk menutup tulisan ini saya coba mengutip lagi obrolan saya dengan teman diatas,
“Bulan Ramadhan itu bulan latihan bos…..” ujarnya kemudian.
“Lho, bukannya bulan suci….? “, tanya saya.
“Yang suci itukan perbuatan manusia yang beribadah dengan khusyu pada saat bulan Ramadhan, bukan bulannya yang suci, lagian intinya kan semua bulan diciptakan Allah itu sama, tidak ada bulan yang buruk atau bahkan yang lebih suci dari yang lain……”
“Saya lebih suka bilang bulan Ramadhan itu bulan latihan…..”
“Jadi gini lho, bos, kalo bulan Ramadhan itu adalah bulan latihan maka katakan yang kita lakukan pada saat Ramadhan kita beribadah 100% maka pada saat 11 bulan lain seharusnya bisa 200% bos, kan udah dilatih tuh pada saat bulan Ramadhan…..”
“Nah, kalo kita bilang bulan Ramadhan itu bulan suci takutnya ada yang nganggep bulan lain itu bukan bulan suci dan dianggap boleh berlaku tidak baik….bisa berabe tuh bos….”, lanjutnya menyelesaikan penjelasan.
Mari kembali ke fitri….
Mari kembali ke kewajaran….
Ditulis dalam tafakur spiritual | Tag: batal, bulan suci, ego, kembali ke fitrah, lapar, makan, mall, pesantren, puasa, rahmatan lil alamin, ramadhan, ustadz