Kalo teringat pengalaman sebagai “fresh graduate” dulu, saya kadang suka geli sendiri. Sebenarnya sih hanya pengalaman sederhana yang pasti juga dialami oleh banyak orang.
Sebagai sarjana “fresh graduate” kurang lebih 7 tahun yang lalu, sudah manjadi standar saat itu untuk melamar bekerja pada satu perusahaan. Umumnya setelah lulus, para sarjana ini, termasuk saya, mulai “mengundi” CV untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan terkait. Semakin banyak “undian” CV dikirim maka semakin besarlah kemungkinan untuk dipanggil yang selanjutnya mungkin akan diterima untuk mulai bekerja. Sudah menjadi “kebiasaan” pula, bagi setiap sarjana “fresh graduate”, mengirim lusinan CV dalam rentang waktu tiap dua minggu.
Entah karena rejeki atau bukan, saya langsung bekerja dengan hanya “mengundi” surat lamaran sebanyak 3 kali, bukan 3 lusin tentunya. Senangnya bukan kepalang. Ditambah lagi saya berhasil memenangkan “nego” gaji yang diatas rata-rata “sarjana tanpa pengalaman kerja” pada waktu itu.
Setelah tugas pertama berhasil “ditaklukkan” (dapet kerja dengan gaji yang lumayan), masih ada lagi tugas yang perlu “dijalani” untuk memastikan karir kedepan yaitu penyesuaian pada lingkungan kerja. Yang terakhir juga saya lalui dengan mulus karena perusahaan tersebut memang kondusif sebagai tempat untuk “berkarir”.
Karena “keberuntungan” yang bertubi-tubi, yang jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, mungkin sayalah yang “beruntung” telah memenangkan “undian” CV dengan pengorbanan yang menurut saya “sedikit”, maka hal tersebut sempat membuat saya lupa diri. Atau singkatnya saya merasa sebagai “MANUSIA HEBAT”. Yang kalau dilihat dari sudut pandang saya yang sekarang lebih cocok jika disebut terkena SINDROME MANUSIA HEBAT.
Karena sebenarnya itu semua hanya sindrome (baca : penyakit), maka biasanya hanya akan bertahan sebentar atau sementara, paling tidak sampai ketemu “obatnya”. Namun sebelum “obat” ditemukan gejala-gejala dari sindrome manusia hebat tersebut terjadi pada saya.
Gejala yang paling sering saya rasakan adalah tiba-tiba saya menjadi “konsultan” untuk teman-teman saya dalam tips dan trik menulis CV, memberikan saran-saran untuk tembus dalam interview, lolos dalam psikotest, dan lain-lain. Yang semuanya hanya saya lakukan dengan berbekal pengalaman sukses “ngundi” CV saya itu.
Belum lagi sindrome yang berhubungan dengan urusan “gaya”. Kemeja terbaru selalu hadir saat gajian tiba. Yang bisa juga dibarengi dengan sepatu model terbaru, jam, HP, parfume, nongkrong di café, beli gadget terbaru dan banyak lagi atribut yang biasanya mengiringi kita saat kita sudah merasa hebat, merasa berhasil, merasa sukses, merasa menang dan merasa-merasa lainnya.
Sampai suatu waktu, kurang lebih setelah 6 bulan saya bekerja di perusahaan tersebut, saya mendapat pengalaman yang akhirnya merubah cara berfikir saya tentang manusia hebat.
Tepat di depan kantor saya pada waktu itu, ada seorang penjual gorengan yang sudah “mangkal” jauh sebelum saya bekerja di perusahaan tersebut. Sebut saja namanya pak Mamat. Pak Mamat sudah mangkal di depan kantor saya selama kurang lebih 5 tahun. Sebelumnya beliau menjajakan gorengannya secara keliling lewat di komplek-komplek perumahan.
“Kalo sekarang sih bapak enakan mangkal den, nggak capek….udah ngerasa tua nih soalnya mau hemat tenaga buat hari tua nanti kalo udah mau “nyawah” lagi di kampung….”, cerita pak Mamat saat suatu hari ketika saya ajak ngobrol.
“Lagian kalo mangkal bapak jadi tau selera yang beli disekitar sini….jadi gampang nyesuaiin ama maunya pembeli, den….”, lanjutnya lagi.
“Jualan di kantoran kayak gini selera pembelinya beda ama di rumahan….” sambungnya.
“Maksudnya gimana pak…?”, tanya saya penasaran.
“Pembeli disini maunya gorengan mutu bagus den, dari bahan yang bagus…..
Urusan minyak goreng juga bapak turutin jadinya, mesti pake minyak goreng yang bersih, bukan minyak kemarenan….”, jawabnya.
Dari obrolan singkat tersebut saya merasa malu. Karena apa yang baru dijawab oleh pak Mamat adalah teori-teori bisnis yang biasanya saya dapat dari seminar yang dimodali oleh perusahaan tempat saya bekerja. Yang pembicaranya konsultan bisnis terkemuka pada saat itu yang teorinya di-import dari barat.
Singkatnya pak Mamat sudah menjalankan efisiensi (dengan berjualan mangkal), segmentasi (memilih pasar orang kantoran) dan diferentiation (mengolah bahan dengan cara yang berbeda dengan penjual lain). Belum lagi pelayanan antar langsung (baca : service kepuasan pelanggan) yang sering dilakukan beliau saat saya dan teman-teman yang lain sedang sibuk-sibuknya bekerja dan meminta gorengan yang baru “diangkat” dan masih hangat diantar langsung ke ruangan sebagai teman minum kopi.
Ilmu-ilmu diatas beliau dapat dari praktek langsung tanpa didahului oleh teori-teori sekolahan. Bahkan mungkin istilah-istilah sekolahan dari ilmu-ilmu bisnis diatas juga tidak pernah didengar oleh beliau.
Saat itu saya merasa pak Mamat juga manusia hebat. Beliau tanpa sengaja menjalani langsung ilmu-ilmu bisnis tanpa “makan” sekolahan. Dibandingkan dengan saya yang perlu waktu bertahun-tahun untuk sekolah ditambah dengan seminar-seminar untuk memahami ilmu tersebut dan saat itupun saya masih minim pengalaman dalam praktek langsung.
Sebuah “cerita lama” yang masih berlangsung sampai saat ini, bahwa lulusan sarjana baru di Jakarta lulus dengan membawa ijasah dan segudang ilmu teori namun nihil dalam pengalaman praktis dari ilmunya tersebut.
Karena masih penasaran, saya meneruskan lagi ngobrol dengan pak Mamat pada hari yang lain.
“Tiap harinya bawa bahan gorengan berapa banyak pak…?” tanya saya.
“Wah nggak tentu den, tergantung hari. Kalo udah masuk hari Kemis-Jumat bapak bawa lebih banyak bahan dari hari Senen ampe Rebo. Soalnya biasanya diakhir minggu banyak yang beli buat dibawa pulang……”, jawabnya.
“Kalo tanggal muda atau tua sih nggak ngaruh den, soalnya harga gorengan bapak kan nggak terlalu mempengaruhi udah gajian atau belum, jajanan kayak gini kan bukan barang mahal den, walaupun harga bapak masih lebih mahal sedikit dari temen-temen lain yang keliling….”, lanjutnya.
“Yang beli beda, mutunya jadi beda, harga juga ikutan beda….”, lanjutnya mengakhiri.
“Wah, kalo gitu untung sebulannya lumayan gede dong pak kalo mangkal gini….?”, tanya saya memancing.
“Yah lumayan lah den, tiap bulan bapak bisa dapet “lumayan”. Bersihnya bisa buat ngirim ke kampung, ke anak-istri ama bisa buat hidup bapak sehari-hari di Jakarta dan masih ada sisa buat nabung sedikit buat “pensiun” di kampung nanti. Mau nyawah aja den….”, jawabnya lugu.
Dalam pembicaraan yang sesungguhnya pak Mamat menyebutkan angka penghasilan bersihnya per bulan yang sontak membuat saya kaget. Bagaimana tidak, penghasilannya sebulan masih lebih besar dari gaji saya perbulan yang biasanya juga selalu habis pas untuk sebulan tanpa bisa saya sisihkan untuk tabungan.
Pengalaman tersebut selalu saya ingat sampai sekarang. Dan masih sering malu jika mengingatnya. Karena, terus terang, sebagai orang yang tinggal di Jakarta, kadang terasa sulit mengabaikan kumandang “adzan” iklan gadget terbaru, HP terbaru, kopi dengan rasa terbaru di café-café import, gaya hidup serta simbol-simbol lain yang tidak pernah habis, yang seolah akan meminggirkan kita yang tidak mengindahkan panggilannya.
Ternyata memang benar nasihat-nasihat orang tua kita dahulu, bahwa “diatas langit selalu masih ada langit”, alias tidak ada manusia yang hebat jika sudah dipandang dari berbagai sisi, dalam hal ini produk-produk “kebudayaan profit minded” seperti materi, karir, dll. Karena semua itu hanyalah simbol-simbol dari kehebatan bukan pencapaian sebenarnya. Jika kita terpaku pada materi dan karir maka semuanya menjadi serba relatif.
Pengalaman kedua yang juga cukup membuat cara pandang saya berubah, saya dapatkan dari sebuah acara TV live yang pada waktu itu dipandu oleh mbak Desi Ratnasary dan mas Dik Doank. Dalam satu sesi acara, mereka mengundang seorang tukang sapu jalan, yang biasa kita kenal dengan petugas berbaju orange dari Dinas Kebersihan Jakarta.
Singkat cerita, diketahui bahwa bapak petugas kebersihan yang telah mengabdi selama 24 tahun tersebut belum digaji selama 4 bulan tanpa alasan yang jelas. Lebih gilanya lagi, bahwa “telat” gaji seperti itu sudah biasa di instansi tersebut. Dan hampir berlaku pada hampir semua petugas orange tersebut.
“Telat satu-dua bulan mah udah biasa mas, tapi ini yang terlama, sampai 4 bulan belum dibayarkan…..” aku si bapak saat ditanya host acara tersebut.
Mendengar jawaban tersebut, dua host acara terlihat geram dan berusaha menelpon kepala dinas kebersihan, agar bisa menjawab secara langsung dan memberikan jaminan bahwa gaji si bapak bisa dibayarkan secepatnya. Namun entah karena tahu bahwa acara tersebut live, maka HP orang-orang terkait yang dihubungi mendadak kompak tidak aktif.
Karena tidak berhasil menghubungi pejabat terkait maka host acara balik mengajukan pertanyaan ke bapak tersebut,
“Pak, selama belum digaji ini bagaimana bapak memenuhi kebutuhan sehari-hari ?” tanya si host.
“Ya karena udah biasa seperti ini, bapak biasa ngutang dulu mas ama tetangga…..” jawab si bapak lugu.
“Trus bapak udah 4 bulan nggak digaji kok tetep kerja, kok mau sih pak, kan belum digaji….? tanya si host lagi.
“Yah tetap kerja mas……Kerjaan bapak kan nyapu dan membersihkan jalan protokol, bapak malu mas kalo sampai masih kotor, malu ama tamu negara kalo kebetulan lewat di jalan yang menjadi tugas bapak membersihkannya…..” jawab si bapak.
Jawaban lugu si bapak kontan membuat dua orang host acara tersebut diam seribu bahasa, larut dalam kekaguman dan keterharuan. Saya-pun merasakan hal yang sama.
Bagaimana bisa jawaban lugu yang sarat dengan nasionalisme keluar dari seseorang dengan pendidikan yang sebagian dari kita menganggap tidak tinggi, yang bekerja pada bidang yang hampir semua orang Jakarta tidak akan mau melakukannya (menyapu jalan protokol), yang tidak mengenal café, yang tidak mengenal butik-butik mahal, terlebih lagi sudah bekerja 4 bulan tanpa digaji……!
Pelajaran kedua ini sungguh membuat saya malu. Malu karena masih menjadi manusia “penuntut”, yang hanya mau bekerja jika digaji.
Bandingkan dengan karyawan sebuah perusahaan dirgantara di Bandung. Yang sudah beberapa tahun ini menuntut pesangon, yang membalut ego dengan sampul keadilan. Yang seolah “sudah beku” akan kreasi untuk mencari penghidupan dengan jalan yang lain selain menuntut.
Tidak malukah kita semua….?
Manusia yang hebat adalah manusia yang mau mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai, dan terkadang dikerjakan tanpa pamrih.
Dari pengalaman kecil ini, saya mendapat pelajaran berharga bahwa menjadi “manusia hebat” tidak bisa dihitung dari materi atau uang dan kemudahan dalam menempuh segala keberhasilan semu. Melainkan dinilai dari proses yang sudah dijalani. Proses untuk berbuat yang terbaik adalah pelajaran yang sebenarnya karena itulah nilai sebenarnya dari hidup.
Manusia hebat adalah semua manusia yang sudah menjalani segmen-segmen hidup dengan baik dan bisa memperbaiki diri dari hari ke hari. Dimana tanggung jawab setiap manusia adalah pada proses yang harus dijalani dengan baik. Yang jika demikian maka segala hasil pencapaian menjadi semu atau hanyalah efek samping dari proses itu sendiri. Yang pada tahap selanjutnya ia bisa menjalani semua proses kehidupan dengan kesungguhan dari hati, sehingga setiap perbuatannya memiliki nilai bagi orang lain, bahkan jika hanya dalam skala kecil-pun.
So, mulai sekarang, jadilah manusia yang benar-benar hebat…..:)
Hai, ceritanya asyik. Kebetulan saya mau bikin buku tentang cinta pekerjaan, akan diterbitin di sebuah penerbit terkemuka. Bisa gak ceritanya saya muat di sebagai salah satu kisah di buku saya?
Respons ya.
Thanks,
Elie
Oleh: elie on November 17, 2007
at 2:49 am
mas elie,
saya sudah jawab via email ya mas….:)
thanks
Oleh: ronnydm on November 19, 2007
at 1:19 am
selalu saja ada yang menyentuh dari kisah-kisah orang pinggiran. pak tukang sampah itu contohnya. luarr biasa.
Oleh: mbak anna on Mei 17, 2008
at 4:53 am
kisah yang luar biasa.. bisa menjadi pelajaran bagi orang banyak agar terus down to earth.. kisah ini mengilhami saya untuk terus menjadi bijak jika dihadapkan pada situasi yang sama seperti penulis.. thnks bgt wat sharing story kyk gini.. keep rockin’ bro!!
Oleh: ulfa on Juli 28, 2008
at 8:19 am