Oleh: ronnydm | Januari 14, 2008

MANUSIA IKLAN

Tidak dipungkiri lagi bahwa semua indera kita, sebagai orang Jakarta dan sekitarnya, selalu bersentuhan dengan iklan produk tertentu. Mulai dari telinga, saat mendengarkan radio. Mata saat melihat majalah dan tv. Penciuman kita yang tidak luput dari sales minyak wangi. Perasa, yang diwakili oleh lidah, untuk demo menggoreng krupuk tanpa kolesterol. Bahkan kulitpun tidak luput dari bahan “percobaan” produk kecantikan atau produk shampo anti ketombe.

“Tugas” iklan memang mengangkat sebuah citra tertentu kepada calon pemakai agar “sesuai” dengan yang dicitrakannya. Dengan kata lain brand akan “mencoba” sesuai dengan orang tertentu atau bahkan orang tertentu “harus menyesuaikan” diri dengan brand bersangkutan.

Jika komunitas tertentu sudah sesuai dengan brand/citra barang bersangkutan, maka dapat dikatakan komunitas tersebut adalah segmen dari produk yang dicitrakan itu. Tapi lebih seringnya “si segmen” ini mencoba “memanjat” pada produk yang dicitrakan tersebut agar ia dianggap “bagian” dari segmen atau komunitas barang tersebut. Yang terakhir mungkin lebih sering disebut sebagai “korban iklan”. Walaupun yang menjadi korban sering tidak merasa sebagai korban, karena pergerakan “memanjat” gaya hidup tersebut dianggap pergerakan ke level hidup yang lebih tinggi, lebih eksklusif, lebih hebat, lebih gaya, lebih “top”, dll.

Iklan memang akan selalu menggambarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang terlihat lebih fungsional, lebih canggih, lebih bermutu, walaupun jarang benar-benar fungsional. Tanpa bermaksud mendiskreditkan iklan, tapi memang itulah fungsi iklan. Iklan tidak akan pernah membuat pembeli menjadi lebih kritis akan tetapi membuat calon pembeli menjadi lebih cepat memutuskan.

*

Bicara tentang fungsi, saya jadi teringat trend tentang polyphonic ring tone beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu banyak orang yang masih memakai HP dengan nada dering monotonik kontan mengalihkannya ke mode silent atau getar karena malu akan suara HP nya yang masih “kuno”.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya saat ini, dimana semua HP sudah poliponik, bahkan banyak pula yang nada deringnya mp3, justru banyak orang yang memakai mode silent alias getar dengan alasan lebih “privacy”, lebih elegan dll. Kalau begitu percuma saja nada dering yang canggih itu ditemukan oleh produsen HP sedunia, toh, jarang terpakai juga. Atau malah mungkin sengaja “ditemukan” untuk hanya sekedar “memutar” penjualan.

Beberapa waktu yang lalu saat minum kopi bersama teman di sebuah café, kami berempat nyaris datang dengan hp dalam mode silent, walaupun ada seorang teman yang masih mengaktifkan pada mode dering-nya. Dari 4 orang yg memakai hp 3 diantaranya memasang mode silent untuk hpnya walaupun pertemuan kami adalah pertemuan informal.

Bahkan menurut pengalaman beberapa teman saya, jika naik motor atau didalam bus akan lebih terasa jika hp tersebut dalam mode silent atau getar, karena tingkat kebisingan lingkungan dimana telinga kita tidak bisa lagi mengklasifikasikan suara ring tone polyphonic agnes monika dengan kebisingan klakson mobil……

Boleh saja berkilah, bahwa warna, suara dering dan merk itu menggambarkan karakter kita, seperti yg selalu diiklankan, tapi yah kok tega-teganya karakter kita “diwakili” oleh barang yang umur trendnya saja kadang hanya berhitung bulan….?

Contoh lain adalah dalam industri fotografi. Dengan “ditemukannya” digital diakhir tahun 90-an, seolah teknologi seluloid (film) telah mati. Paling tidak itulah yang “diisukan” oleh beberapa produsen kamera. Setelah 10 tahunan berlalu, ternyata masih bisa kita temui rol film biasa yang dijual di toko-toko kamera.

Fakta terakhir yang sulit terbantahkan adalah bahwa resolusi kamera digital format 35mm baru mencapai 16 megapixel sedangkan satu frame dari film seluloid jika di-scan dengan scaner khusus akan mencapai 32 megapixel. Semua fakta itu menjadi tidak penting karena mata orang awam kebanyakan sulit membedakan mana foto yang dihasilkan oleh kamera dengan resolusi 8 megapixel dan 10 megapixel. Padahal yang terakhir bisa berharga dua kali lipat jika kamera tersebut baru launching dan hanya berumur 6 bulan saja sebelum yang 12 megapixel siap menjadi produk baru. Perlombaan megapixel pada kamera digital memang sekedar marketing “gimmick”. Dan terbukti berhasil membuat fotografi menjadi trend lagi, bahkan lebih luas dikalangan kaum muda dan pelajar, yang karena opini yang tidak berimbang dari iklan, kemudian menganggap fotografi sebagai hobby yang tidak lagi mahal.

Paling tidak dengan adanya “gimmick” digital, konsumen kamera bisa bernafas lega, karena dunia fotografi bergiat kembali dari kejenuhannya disekitar tahun 90-an.

Yah, karena iklan juga akhirnya ada anekdot dikalangan fotografer dengan “mengklasifikasikan” kelompok orang tertentu yang lebih hobby mengganti alat fotografinya setiap produk baru muncul ke pasar daripada aktifitas memotret itu sendiri, dengan sebutan PHOTOGADGETER. Atau ada juga istilah PHOTOSHOPER sebagai fotografer dengan kemampuan pas-pasan, hanya mengambil foto seadanya, atau yang biasa disebut foto-fotonya sebagai “spare part” saja. Karena setelah diload ke komputer maka foto tersebut akan menjadi bahan yang benar-benar mentah untuk kemudian diolah habis-habisan dengan sebuah software yang bernama PHOTOSHOP.

*

Iklan dapat membuat status konsumen menjadi kabur, konsumen sebagai korban ? Atau konsumen sebagai pemakai yang sebenarnya ?

Pada konsumen korban inilah produsen bisa bernafas lega, karena yakin setiap produk yang dilaunching pasti punya animo psikologis yang kuat ketimbang animo fungsional yang cerdas. Karena konsumen pemakai yang cerdas hanya akan membeli jika barang tersebut dibutuhkan dengan kata lain logika fungsional lebih dikedepankan. Iklan memang lebih “bermain” diwilayah psikologis, karena sifatnya yang “mengalir” dan mudah “dipengaruhi”.

*

Jika bicara iklan, maka tidak mungkin kita meninbggalkan dunia fashion dan celebritis. Dua dunia yang justru menjadi ujung tombak periklanan saat ini.

Fashion yang sifatnya memang mudah berubah, mengikuti musim, walaupun musim dinegara empat musim bukan dinegara tropis ber-dua musim seperti kita. Fashion harus berubah. Karena ada unsur kebudayaan manusia di dalamnya. Baik itu desain, kebiasaan, iklim, dll. Tapi paradoks bisa terjadi disini. Gaya harajuku yang di-import dari jepang boleh jadi menjadi trend saat ini dan membuat setelan casual kaos dan celana jeans menjadi “usang” atau ketinggalan jaman. Padahal yang terakhir mungkin lebih cocok dipakai di Jakarta baik dilihat dari sudut pandang iklim, sosial, rasa keamanan dan kenyamanan, namun gagal jika harus menjadi “trendsetter” saat ini.

Sedangkan celebritis atau pesohor sering dianggap ujung tombak perubahan “gaya” itu sendiri. Banyak orang mengikuti potongan rambut Leonardo di Caprio saat bermain dalam Titanic, namun gagal me-logikakan bahwa potongan rambut tersebut terlalu maju untuk masa dimana setting film itu dibuat. Tak sedikit orang yang juga mengikuti “gaya” cool dari Brat Pitt saat main di Ocean Eleven, gaya “street pop fashion” yang dikenakannya. Tapi gagal lagi melogikakan bahwa style tersebut hanya cocok dipakai di kota sekelas new york dimana infrastruktur kota sudah termanage dengan baik dan “kegagapan” sosial budaya sudah tidak ada. Singkat kata untuk kota sekelas jakarta mata “penikmat” belum terbiasa dengan hal seperti ini, kecuali jika anda berencana naik mobil pribadi dan hanya mengunjungi mal, yang tentunya sebutan gaya ini akan berubah menjadi “car or mal pop fashion”. Yang menegaskan kita memang hanya pintar dalam “mengikuti” trend tetapi selalu gagal dalam melogikakan bagaimana trend itu bisa timbul.

Saya tidak anti celebritis. Jika kita melihat sisi lain dari Leonardo di Caprio yang sekarang menjadi aktifis lingkungan hidup yang amat “vokal”, sisi lain dari Brat Pitt sebagai orang yang mau mengadopsi anak-anak dari Afrika dan Vietnam, yang hidup terlantar, terlihat bahwa mereka memiliki nilai selain nilai kesohoran mereka, nilai yang membuat mereka manusia yang berarti bagi orang banyak. Namun sekali lagi kita gagal atau keliru “meniru” apa yang mereka lakukan. Berapa banyak sih orang jakarta yang peduli terhadap lingkungan dan anak yatim piatu….?

*

Mulai sekarang bayangkanlah, mulai dari ujung rambut anda sampai ujung kaki anda…..

Rambut…..
Katakan hanya dipotong di salon kenamaan dengan produk produk perawatan yang juga kenamaan dan dipakai juga oleh pesohor dunia….

Wajah dan leher…..
Produk kenamaan untuk perawatan dan emas berlian sebagai asesori giwang dan kalung….

Badan tangan dan kaki…..
BH, celana dalam dengan merk termahal dan bentuk terseksi, yang tidak akan terlihat juga karena toh anda tidak memakainya seperti superman atau wonder woman….
Jas dengan guntingan pribadi,
Jam dengan koleksi limited,
HP disaku kiri untuk panggilan pribadi dengan model tercanggih,
HP disaku kanan untuk bisnis dari model smartphone yang karena berat sering membuat celana anda melorot….
Celana jeans dengan seri limited juga yang biasanya terlihat seperti celana bekas pakai orang satu kampung alias sudah sangat-sangat “belel”
Sepatu dari italy….yang kadang bahan baku kulitnya dari jawa Barat
tak lupa kaos kaki anti bau kaki….

Setelah anda bisa membayangkan maka tanggalkanlah semua, tentu yang ini juga cukup dibayangkan saja, anggaplah anda hanya memakai produk generik yang termurah yang pernah ada dibumi ini, dari ujung kaki samapi ujung kepala.

Setelah “menanggalkan” bayangkanlah diri anda….
Apakah anda masih berarti tanpa barang itu melekat di badan anda….?
Apakah nilai anda masih tersisa setelah barang tersebut anda tanggalkan….?
Apakah anda menjadi tidak percaya diri jika benda2 tersebut ditanggalkan…?

Jika jawabannya adalah anda tetap bernilai (yang pastinya bukan nilai materi), apakah itu bernilai bagi keluarga anda, orang lain, teman, karyawan, bos, dll, walaupun tanpa barang2 tersebut diatas, maka anda BUKAN MANUSIA IKLAN. Tapi yang untuk ukuran jaman sekarang yang penuh paradoks, maka biasanya anda akan dipanggil kuno, idealis, nggak gaul, pelit, kampungan, dll.

Namun jika jawaban anda adalah ragu2 atau bingung jika harus hidup tanpa itu semua, maka selamat ANDALAH MANUSIA IKLAN SEJATI, karena anda identik dengan itu semua dan menjadi bukan siapa-siapa tanpanya……

Anda pilih yang mana…….?


Tanggapan

  1. (…A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attidudes…)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori